Tampilkan postingan dengan label jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jalan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 18 Juni 2015

Sepit dan Kerupuk Ikan


We do love travel, fcuk yeah!!! terlepas dari idioms yang berkata 'The world is a book and those whatsoever,' travelling memang sudah menjadi lifestyle. Kalau buat kebanyakan orang travelling itu sebagai lifestyle yang bersifat entertainment, buat gue travelling itu bagian dari perjalanan dinas yang menjemukan *eh.




Minggu lalu gue ke Sumatera Selatan. Bukan kali pertama ke daerah itu, tetapi biasanya memang kita naiknya lewat jalur darat. Kali ini lewat sungai, merasakan satu satunya metode transportasi yang belum pernah gue coba, kapal kecil. *sebetulnya sudah pernah sih, ketika naik kapal nyeberang ke pulau pari, tapi rasanya beda, karena ini hanya speed boat kayu yang isinya tak sampai 30 orang*. Hal yang paling saya suka, adalah banyaknya kelapa di perkampungan yang masih bagus, di daerah saya, kelapa sudah habis terkena serangan Orcytes ToT






Jam setengah lima pagi kami sudah siap, menunggu sepit -dan juga mobil yang akan mengantar-. Perjalanan dari lokasi ke Palembang makan waktu 3-4 jam, tergantung amal dan perbuatan. Lamanya waktu perjalanan dan minimnya pertimbangan kenyamanan, membuat saya terpaksa memungut beberapa buah batu untuk disimpan teman saya, karena dia sedang sakit perut. Lama pasti perjalanan tergantung seberapa sering sepit transit, karena kita memang naik sepit umum, ya harus agak bersabar.





















Dari sungai yang hanya selebar 20 meter, ukurannya berubah tergantung lokasi. bisa ke lebar, atau sangat lebar. Tiadanya alat penyelamatan hanya membuat kita berharap bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi, karena biasanya jika ada kapal karam, yasudah ikhlaskan saja, SAR saja tidak ada. hehehe

Sampai palembang agak siang, kami masih sempat mencari langsung ke sentra produksi kerupuk ikan yang beken di sana -selain pempek-. Pencarian kerupuk ikan dengan pertimbangan bahwa sudah akan masuk musim puasa -walaupun tidak ada hubungannya juga sih). Saat memilah milah kerupuk, harganya sangat berbeda dengan di toko souvenir besar, misalnya C*NDY. Satu kantong plastik besar di produsen yang saya beli dengan harga 12 ribu, teryata untuk item yang hampir serupa (tentu dengan merk yang berbeda), harganya 23 ribu di toko oleh oleh. wew.

Hal yang agak khas di daerah produsen kerupuk ini, adalah hampir semua pembuat kerupuk merupakan etnis tionghoa. Jadi ya jangan kaget kalau banyak aroma Tionghoa disini. Dari peletakan cermin di atas pintu rumah, tempat dupa yang tergantung di teras, atau kertas/kain bermotif stempel yang biasa dilihat di film Mandarin. Rumah persembahyangan juga mudah dijumpai di beberapa gang/jalan.

Membeli kerupuk seperti ini memang sangat murah kalau membeli langsung di produsennya, harganya berbeda jauh, ditambah kualitas yang bisa dikatakan hampir sama. Hanya saja harus ekstra hati hati dan sabar karena lokasinya masuk masuk gang kecil. Pengalaman saya, membeli kerupuk kadang membuat malas karena saat membawanya. Volume terlalu besar untuk amsuk ke kabin, terlalu rapuh untuk masuk bagasi. Tetapi ternyata kru maskapai menyediakan akomodasi khusus untuk kerupuk. Mereka berjanji akan handle krupuk di bagasi dengan berhati hati, jadi no worries, ayo beli kerupuk ikan. hehehe






Selasa, 23 Desember 2014

Flona 2014 season II

Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, tahun ini pelaksanaan pameran Flona (Flora Fauna), dilaksanakan dua kali. Even pameran tahunan ini memang selalu berlokasi di lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Biasanya, pameran dilaksanakan pertengahan tahun selama dua bulan, dimulai dari pertengahan tanggal 20 an awal.
 Pintu masuk depan hotel borobudur saat malam. Meriah!


Stand sukulen murah meriah
 
Dua tahun sebelumnya (2013 dan 2014), saya absen dari pameran, yang biasanya, bisa saya kunjungi hingga 4 kali per pelaksanaan. Adanya agenda tugas ke lokasi membuat saya harus absen. wee, quite a hard thing to do, but life, I mean work, must go on. Jadi ketika saya mendapat info ada pameran Flona di penghujung tahun, antara kaget tidak percaya, dan kemudian excited ketika selesai konfirmasi, saya memastikan kalau saya akan kesana, dan seperti biasa, mungkin sekali kunjungan tidak akan cukup. lol

Kunjungan pertama adalah saat saya CFD-an, hari minggu.Selesai lari, dengan kaos masih basah oleh keringat (dan juga belum mandi, entahlah baunya seperti apa saat itu), saya kesana. Masih sepi, karena memang saat itu masih sekitar jam 8 pagi. Begitu datang, saya berkeliling, sambil menghampiri beberapa stand yang menurut saya menarik. Perhentian pertama, stand anggrek. Experience is the best teacher, itu mungkin kata mutiara yang terpampang di buku tulis saat saya SD. Tapi bukan sekedar kata mutiara, tapi memang ebnar adanya. Pengalaman tahun tahun sebelumnya, stand anggrek dengan layout rapi dan anggrek bagus dan colorful, harganya lebih mahal daripada yang biasa biasa saja. Aaannnnndddddd, it works.

Namanya di pameran, kadang harga yang berlaku bukan harga pasar. Selain karena adanya biaya sewa stand yang menaikkan harga dasar produk, juga karena sebagian besar yang dijual disini adalah barang hobi, sehingga pedagang bisa mengatur harga diatas harga normal. Maksud saya begini, dalam hukum pasar, pedagang tidak bisa menentukan harga seenaknya, karena ada hukum supply and demand, dimana konsumen akan beralih ke pedagang lain karena kulaitas barang yang hampir semuanya sama. tapi kalau barang hobi, karena masing masing barang memiliki spesifikasi dan kondisi yang berbeda beda dengan yang ditawarkan oleh pedagang lain, maka pedagang yang mempunyai barang itu bisa membuat harga sendiri, tanpa terpengaruhi oleh pasar secara umum, atau tetangga sebelahnya. mungkin ada pengaruhnya, tetapi lebih ke arah range harga tertentu, dan itu bervariasi sekali.

 Bahkan ada yang jual Blueberry dan Blackberry! sayang gak ada yang jual pohon Nexus

Misalnya seperti ini. Saya di rumah memiliki anggrek spesies dengan nama Rhynchostylis gigantea normal, dengan motif normal, marbled red and white. Menurut saya cukup rajin, karena sudah dua tahun ini dia selalu berbunga. Mengetahui ada pattern lain, var rubra (merah) dan alba (putih), amka saya berniat mencari keduanya untuk menemani saudaranya di rumah. Setelah beberapa kali survei ke beberapa pedagang, ada yang meminta harga 250 ribu, ada yang 200 ribu, dan guess what, I got two for 250k! Cheap, aren't they? Tipsnya, sebelum membeli, berkelilinglah terlebih dahulu untuk mengecek harga produk sejenis di pasar.

Kunjungan pertama, saya membeli beberapa item, setidaknya yang saya ingat, yaitu Dendrobium antennatum, Dendrobium sutiknoi (?), Phalaenopsis celebensis, Cattleya sp (hibrida), Phalaenopsis amboinensis, dan Vanda tricolor. Well, setidaknya 400 ribu lolos hari itu.

Kunjungan berdua, menemani si bastard Mastika Wardhani. Wew, temen struggle jaman kuliah yang kadang hanya bisa membuat mengelap keringat. lol Kunjungan ini gue membeli Dendrobium aphyllum, Dendrobium macrophyllum, Rhynchostylis gigantea alba, Rhynchostylis gigantea rubra, Dendrobium kuhlii, dan Dendrobium mutabile. Khusus untuk dendobium kuhlii, agak gambling karena habitat aslinya adalah di dataran tinggi.Setidaknya, 400 ribu lolos lagi dari belanja ini (Ampuni oca aim...)

 Si kampret Mastika Wardhani dan Bulbophyllum beccarii

Kunjungan ketiga, lagi lagi setelah CFD-an. Tidak beli yang mahal mahal, hanya beberapa sukulen murah meriah untuk project terraium. Hingga didapat 8 pot sukulen murah, dengan 7 pot berharga 5 ribuan, dan 1 pot Haworthia aka ekor cecak dengan harga 10 ribu. Masih murah lah daripada anggrek kemarin. Sayangnya, sampai tulisan ini dipost, toples kaca yang akan digunakan belum dapat, dan bahkan saya baru sadar karena telah membeli terlalu banyak. Pada kunjungan ketiga, saya sempatkan juga untuk mampir di stand jawa timur, membeli rawon dan keripik gadung. Oh God it's heaven! seenggaknya bisa makan rawon asli dan ngobati kerinduan akan kampung halaman. *Meh, kalau mudik malah tidak pernah makan rawon, LOL

Hampir semuanya gocengan, kecuali barisan depan nomor dua dari kiri.

Makan rawon sambil mbrebes mili *halah
 
Berikut beberapa review gue tentang pelaksanaan Flona 2014 season II:

1. Jumlah stand tidak sebanyak Flona reguler. Terutama untuk stand fauna, seingat saya yang pasti ada adalah 1 buah stand petshop dan 1 stand kolam ikan knock-down. Tidak ada stand reptil dan petshop lain yang biasanya melimpah dan selalu ramai dikunjungi anak anak.

2. Jumlah pengunjung tidak terlalu banyak dibandingkan Flona reguler. Ada beberapa alasan yang mungkin menjadi biang keroknya. antara ketidaktahuan masyarakat akan flona yang diluar jadwal reguler, dan atau banyaknya hujan yang turun (khusus yang kedua, beberapa penjaga stand mengucapkan langsung ke saya)

3. Item dagangan, dan juga stand juga hampir tidak berubah dari tahun ke tahun. Anggrek, tanaman hias, tanaman buah, ada juga bonsai, dll. Satu stand yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun adalah Stand Kombucha atau jamur teh. dan lokasinya juga selalu berada di spot yang sama. Ini juga yang menjadi jokes untuk Ardie Ariyono

Stand kombucha langganan Ardie Ariyono

4. Ada yang mengeluhkan mengenai keamanan lokasi, apalagi setelah tanggal 21 November, beberapa stand sudah mulai pulang dan ada insiden kehilangan batik tulis dengan nilai kerugian mungkin lebih dari 15juta rupiah.

5. Penambahan stand regional (Stand Jawa Timur, Banten, Yogya, dll) tentu menjadi kemajuan yang cukup baik. Lumayan bisa makan rawon asli dan membeli beberapa cemilan khas jawa timur seperti keripik gadung, keripik nangka, dll



 

Selasa, 16 Desember 2014

Kebun Raya Cibodas

Kebun raya ini memang tak terkenal saudara sepupunya, Kebun Raya Bogor. Secara geografis, kebun raya cibodas memang kurang beruntung, tak jauh dari jalan lintas Bogor-Bandung, tapi yang macetnya tentu saja telah terkenal. secara geografis, memang jarak keduanya tak terlalu jauh, mungkin kurang dari 50 km, namun kondisi agroklimatnya memang beda. kalau KRB ekosistem dataran rendah beriklim basah, maka KRC adalah dataran tinggi dengan iklim basah.


 Gambar 1. Musholla KRC yang ada di tengah danau. Melihatnya saja sudah bikin adem

  Gambar 2. Peta Kebun Raya Cibodas

One thing i love most dari KRC adalah tiket masuknya gratis, err.... Memang sejak April tahun 2012, masuk ke KRC digratiskan alias bebas biaya. Ketika gue kesana akhir bulan Maret 2012 (saat masih bayar), pada weekend saja ramainya sudah naujubilah, apalagi kalau gratis seperti sekarang ya?

Gambar 3. Gunung Pangrango (atau Gede?) yang nyembil dibalik awan.

Hawa hawa di KRC terasa aroma pegunungan sekali. Dingin, seringkali gerimis ringan dan berkabut ketika sudah diatas jam 12, dengan awan dan mendung yang selalu menggantung rendah di kaki gunung. Hawa dinginnya itu sebenarnya yang bikin malas ngapa-ngapain. Pengennya tidur aja sambil meluk kamu. *ngomong sama kompor*.

Namanya kebun raya, ya ukurannya luassssss banget. Dan berhubung saya kesana dengan modal nekat, maka saya gak ke kebun sakura, yang memang lokasinya jauh di belakang, jauh dari pintu masuk utama. Menurut pengamatan saya, tidak ada mobil keliling kebun raya seperti di KRB, itu yang bikin malas kalo gak bawa kendaraan sendiri. -tau deh beneran gak ada apa emang guenya aja yang gak lihat-. LOL
 Gambar 4 dan 5. Spot kolam teratai

Tujuan awal ke KRC adalah liat koleksi anggrek, yang bersebelahan dengan koleksi kaktus. The most sh*tty thing adalah, gue kesana pas weekend dan penjaga green house keduanya gak ada *terkunci*. Katanya sih bisa menghubungi petugas kebersihan yang biasa megang, tapi ternyata dia lagi heboh bantuin acara gathering -apalah itu instansinya- yang bertempat di gedung -juga entah apa namanya- depan greenhouse kaktus dan anggrek.

 Gambar 6. GuestHouse yang bisa Disewa.

Kecewa, padahal jalan kaki gue dari depan ke greenhouse ini yang jaraknya lumayan + trek setan naik turun mendaki gunung lewati lembah + berkelok cetar. ngeloyor aja gue pulang.

Di dekat entri masuk ada kios yang menjual tanaman hias, kantin, dan wisata agro -sok -sokan- petik stroberi. tapi berhubung gue gak minat ya gak mampir *apeu* *padahal gak punya duit*.
 
Gambar 7. Spot Wisata agro petik strawberry sendiri

Trus berhubung sini luas dan adem, banyak yang duduk duduk dilapangan sambil ngegelar bekel dari rumah. Rata-rata memang kalo gue liat kesini tujuannya buat piknik (sama pacaran). Kayaknya emang gue doang yang punya tujuan scientific dikit ingin mengenal keragaman koleksi KRC (halah, sok sokan).

kalo pengen ngegelar bekel dari rumah, disini banyak ibu ibu yang kerja sebagai penyewa terpal alas duduk. Agak malu juga sih mereka pas difoto, gak ada niatan jadi artis kali ya jadi malu dan kurang fotogenic *halah*. ibu ibu ini pakai seragam khusus yang membedakan mereka dari pengunjung umumnya, dan mereka juga berkumpul di lapangan depan, dekat simpang utama pas pertama masuk ke KRC.
Gambar 8. Ilustrasi piknik di tengah lapangan

 Gambar 9. Ibu ibu penyewa terpal untuk alas piknik.

 Bonus:
1. Ini postingan yang sudah terpendam lama di draft, bisa jadi relevansinya sudah menurun di beberapa aspek.
2. Di pintu keluar banyak penjual oleh oleh, dari snack, suvenir, sampai sayuran. Berikut contoh foto yang gue ambil saat itu. Harganya murah kok, saat itu masih Rp. 10.000 tiga bungkus, dan yang pasti sayurannya sangat segar.

3. Untuk piknik, memang di KRC jauh lebih enak daripada KRC, karena udaranya sejuk dan sengatan matahari jadi tidak terlalu terik.
4. <PLEASE READ THIS> Walaupun contoh penjual sayur yang gue pasang di Bonus 2 itu cukup murah dan menggoda, ada yang masih lebih baik lagi jika ingin membeli oleh oleh. Di jalan keluar, di turunan, sebelah kanan jalan ada penjual sayur yang berbeda. Penjualnya adalah ibu ibu (lebih tepatnya disebut nenek nenek) yang menjual sayur indigenous. Saat itu, beliau menjual pucuk daun labu siam, pakis, katuk, dan sejenisnya. Sayuran yang tinggal foraging saja dari sekitar. (Mbrebes mili), kalau memang kesana tolong beli. Dia gak minta minta, tapi lebih baik beli di beliau (dan tanpa menawar).


Edited December 24th
Ternyata masuk KRC itu berbayar, kalaupun pada saat itu tidak berbayar, maka hanya saat ulang tahun KRC.

Minggu, 14 Desember 2014

Curug Cilember vs Curug Nangka, which one do you prefer more?


Well, here's coming another not-so-important stories to posted. temanya kali ini sekitar jalan - jalan. kalau gak terlalu updated, ya it's your loss, karena kunjungan hue ke dua lokasi ini gak bisa dibilang baru. bahkan ke curug cilember aja pas gue masih semester 6, artinya kurang lebih udah 4.5 tahun lalu. Omaigosh, gue udah tua. Fak! lol

Curug cilember dan curug nangka adalah dua destinasi alam yang cukup terkenal di daerah bogor. ada beberapa persamaan dan perbedaan yang cukup mencolok di kedua obyek wisata ini.

A. Persamaan:
1. Baik Curug Nangka mapun Curug Cilember merupakan air terjun (you don't say bitch, lol). Curug Nangla maupun Curug Cilember merupakan air terjun yang berada di kaki gunung, dengan suhu air yang bisa sama sama breezing.
2. Curug Nangka dan Curug Cilember merupakan destinasi wisata yang sama sama ramai dikunjungi, dan kebanyakan adalah anak anak labil yang entah apa tujuannya.

B. Perbedaan:
1. Infrastruktur penunjang
Curug Nangka merupakan destinasi yang terbatas, atau mungkin sangat terbatas dengan segala keterbatasannya. minimnya infrastruktur membuat pengunjung agak ogah ogahan. jauh berbeda dengan saudara kembarnya Curug Cilember
- Stepping Path
Stepping Path di Curug Cilember masih berada dalam kondisi yang bagus, terawat, dan landai. Sedangkan di  Curug Nangka, tak semua berupa jalan beton, ada juga jalan setapak dari tanah yang akdang sangat sempit.
- Object Penunjang
Di Curug Nangka, jangan berharap menemukan kondisi estetika buatan manusia dalam kondisi baik. Kalau di Curug Cilember, begitu masuk kita menemukan taman yang terawat rapi, air mancur, kolam ikan, dan lain sebagainya, di Curug Nangka, well, I'm frankly speaking that you won't find so.
- Fasilitas lain lain
 Di Curug Cilember, fasilitas penunjangnya sangat banyak dan baik. Ada cottage yang bisa disewa, areal perkemahan, hingga musholla, semuanya ada dan dalam kondisi sangat baik. Kalau di Curug Nangka, mungkin anda cukup puas dengan kamar ganti yang dibangun serampangan dengan tarif 2.000 per masuk. Pos pos istirahat juga mungkin kalau anda tidak cukup berani untuk duduk di pos pandang/gardu jaga dari bambu yang sudah agak "kriet kriet", maka puaskanlah diri anda untuk duduk duduk di batu atau pinggir jalan saja. lol
- Extra additional
 Khusus di Curug Cilember, ada fasilitas tambahan bernama Taman Kupu Kupu. Bangunan berupa Dome yang sangat edukatif dan konservatif untuk beberapa species, khususnya Troides helena. Kalau di Curug Nangka, well, hehehe, I guess I'm not going to say anything.
- Kantin, or Food Court?
Mulai lapar... mulai lapar... (whoops, salah, kita gak di endorse sama produsen snack itu). Kalau lapar, pilihannya juga agak berbeda. kalau di Curug Cilember bertebaran food court dengan pilihan makanan yang beraneka ragam, maka di Curug Nangka opsinya terbatas, mungkin popmi, mi instan, atau warung sunda dengan berbagai jenis lalapan. wasn't a great deal I guess, karena opsi makanan sunda nya juga representasi yang sangat baik bagi budaya masyarakat sekitar.

2. Akses ke main object
Well well, infrastruktur penunjang berakibat ke beratnya proses struggle yang harus kita lalui untuk ke object utama (yaitu air terjun). 

Di Curug Cilember, pembangunan yang sudah cukup pesat membuat kondisi fasilitas seperti jalan setapak masih dalam kondisi baik dan sangat terawat. ditambah, karena aksesnya yang lebih landai membuat kita nyaman nyaman saja sepanjang perjalanan. 

Sedangkan di Curug Nangka, selain destinasinya agak jauh, terjalnya medan dan hampir tidak ada sentuhan pembangunan, seringkali kita harus melewati jalan setapak dari tanah. dan atau jika melalui jalan setapak dari beton, kebanyakan sudah hancur dan puingnya sering membuat harus ekstra hati hati supaya tidak terpeleset.

Hal lainnya, kalau di Curug Cilember akses jalan mulus dari kita masuk hingga ke air terjun, di Curug Nangka berbeda dan lebih menantang adrenalin. harus melewati jalan terjal, berat, licin, sempit, atau bahkan kita harus melompat di antara batu batuan sungai

Oiya, kalau berkunjung ke Curug Nangka harus memperhatikan waktu juga. Saat puncak musim penghujan, selain hujan yang bisa turun kapan saja, bisa jadi ada longsoran tanah di kanan dan kiri jalan setapak yang cukup membuat bergidik, atau paling tidak, menambah proses struggle kita menuju air terjun.

3. HargaTiket Masuk
 Dulu, jaman ke Curug Nangka 4.5 tahun yang lalu, harga tiket masuk hanya satu, dan itu nilainya hanya Rp. 2.500, atau malah Rp. 1.500 ya? lupa pastinya. meskipun kini harga tiketnya sudah naik dengan tingkat yang cukup mengagetkan, tapi menurut gue, masih tetep lebih murah dibandingkan Curug Cilember.

4. Jenis Pengunjung
Ini yang paling unik, karena kondisi geografis Curug Cilember yang masih di sekitar cisarua dan berdekatan dengan beberapa destinasi unggulan lain, maka tidak jarang banyak turis mancanegara yang berseliweran. Namun satu yang paling genggeus, banyak arab disini. dengan cadar dan dresscode hitam untuk perempuan, dan baju casual untuk laki lakinya. dengan anak yang menggemaskan namun kadang jitakable.

5. Originalitas
Pada kondisi umum, curug Nangka masih kalah ramai jika dibandingkan dengan Curug Cilember. Hal ini memiliki beberapa implikasi positif, misalnya:
a. Kondisi alam yang masih lestari.
b. Masih cukup private kalau tidak mau berdesak desakan dengan strangers.

A. Curug Cilember





 


B. Curug Nangka


 



Overall, walaupun gue banyak menulis review negatif mengenai curug nangka, gue lebih milih Curug Nangka dibandingkan dengan Curug Cilember. Here's why:
a. Curug Cilember is so overrated, dan gue gak suka sama hal hal berbau seperti itu, seringkali ekspektasi yang terlalu tinggi membuat kita gak puas karena excitement yang berlebihan.
b. Curug Nangka masih asri, sepi dari peradaban yang menggangu niatan kita untuk menikmati alam. satu yang paling gue gak suka adalah pembangunan kamar ganti/toilet yang sifatnya sangat serampangan dan gak teratur

Tips kalau mau ke Curug Nangka:
a. Upayakan sampai di lokasi sebelum jam 8. Saat itu kondisi masih sangat sepi sehingga bener bener terasa air terjun private.
b. Kalau mau sensasi yang lebih chilly, datanglah pada sekitaran musim hujan, dan setelah semalamnya turun hujan, maka kabut yang terlihat di antara kanopi pohon di kejauhan menjadi efek khusus yang mencekam (halah), ditambah dengan suara serangga hutan seperti tongeret dan belalang pohon.
c. Kalau mau effect foto yang lebih dramatis, ada air terjun di bawah yang jarang orang tau, akses memang lebih susah, tapi worth the pain (kalau menurut gue)


Minggu, 14 Oktober 2012

situs wisata sejarah ciareuteun

 buat kalian yang pernah SD atau SMP, pasti pernah denger prasati ciareuteun. sebenarnya prasasti ciareuteun, atau beberapa menyebutnya sebagai prasasti batu tulis -resemble with the similar name in batu tulis yang berlokasi depan istana batu tulis Bogor-.

supaya lebih gampang, mari menyebut kawasan ini sebagai situs ciaruteun -ternyata namanya begitu, bukan ciareuteun-. berlokasi di daerah ciaruteun, cibungbulang, kawasan ini memiliki 3 situs purbakala, terdiri atas dua prasasti dan satu situs purba non-tulis. prasasti yang ada disini adalah prasasti kebon kopi dan prasasti batu tulis, sedangkan situs purba non-tulis adalah batu dakon.

1. Prasasti kebon Kopi

gue sediri gak ngerti kenapa disebut kebon kopi, mungkin nama desanya kebon kopi (might be?). berlokasi persis di pinggir jalan, dengan bentuk bangunan yang eye-catching sekali, maka dijamin bisa menemukannya tanpa kesulitan. cukup bagus sebetulnya, dilengkapi dengan areal parkir dan gazebo untuk menaungi prasasti yang ada, namun sayangnya, sepi. taka ada pengunjung, apa lagi juru kunci keika saya datang kesana. ketika bertanya dengan penduduk sekitar, sebenarnya ada juru kunci yang menjaga situs ini, tapi menurut saya juga tak harus lah. lokasinya kecil (ukuran bangunan sekitar 4 m x 4 m), dan hanya dipagar setengah badan tanpa kunci gembok, kita bisa melongok dari luar, atau masuk untuk melihat lebih jelas.

seperti yang sudah banyak diulas di buku sejarah, prasasti ini mencolok karena adanya bekas tapak gajah airawata yang ada di atasnya. batunya sih tidak terlalu besar, dengan ukuran antara 60 cm x 80 cm, tergolek begitu saja. sudah cukup mengamati bentuk nyata prasasti yang hanya gue tahu dari buku itu, beranjak ke prasasti kedua.



oh iya, buat yang masih kesasar kalau kesini, tanya saja ke penduduk lokal, lagipula lokasinya pas disamping SD, jadi mudah ditemukan

2. Prasasti batu tulis - ciaruteun

inilah masterpiece disini. batu dengan berat entah sekian ton yang katanya penuh drama hingga dipindahkan kesini.

pertama ditemukan di sungai, batu ini langsung mendapat perhatian untuk penempatan ulang. sayangnya, lokasi penemuannya di dasar sungai yang kanan kirinya berupa tebinmg membuat pemindahannya menjadi masalah. dengan tenaga 8 orang laki laki dewasa bekerja selama full day, katanya hanya naik 50 cm per hari, wow! (kalo gak salah sih data tersebut). ukurannya memang subhanallah, bisa lah dilihat di foto, bandingkan dengan tinggi badan saya yang saat itu masih sekitaran 172 cm.

berasal dari satu generasi -kan memang warisan taruma negara, yang konon kerajaan pertama di Indonesia-, tulisannya juga masih belum abjad A B C D, tapi dengan aksara Pallawa. lokasinya juga tidak mudah, karena masih masuk gang yang agak susah. kira kira 50 m dari prasasti kebon kopi, sebelah kanan jalan (dari arah ciampea) akan terlihat papan pemandu jalan, turun dan kira kira 150 m melewati pemukiman penduduk, anda akan masuk ke suatu situs khusus yang sangat merinding. pas di pinggir sungai, dikelilingin pohon tuinggi, dan suepi pol. suasananya merinding disko semi mencekam. bangunanya jauh lebih luas dibandingkan dengan situs prasasti kebon kopi. gelap dan lembab + dingin pula




tak lama setelah memasuki situs, muncullah juru kunci situs ini (jeng jeng jeng), sebenernya males juga sih, toh gue gak pengen denger dongengnya. setelah beliau bercerita dengan gaya hafalan yang sangat mulai dari masuknya raja pertama dan mendirikan kerajaan, hingga prasasti ini diangkat, gue mendengarkan dengan setengah hati. in the end, setelah beres dan mintain dia foto, gue kasih deh uang terima kasih. err.... *ini yang sebenernya bikin males*

3. Situs batu dakon

done, gue pikir. ternyata masih ada situs ketiga yang gue juga baru tahu. situs sejarah non tulis, karena memang lebih mirip monumen. terlihat bekas sentuhan peradaban manusia, tapi tidak ada keterangan tertulis, sehingga hanya bisa mereka reka fungsi dan tujuan pembangunan situs ini. kira kira 300 meter setelah gang prasasti batu tulis, sebelah kiri jalan, masuk 50 meter, ada bangunan kecil berwarna putih, tanpa pagar dan keterangan apapun, hanya terlihat susunan batu yang dikelilingi lantai dari semen yang sudah diaci.

disebut batu dakon karena memang ada lubang lubang seperti tempat menaruh biji dakon dalam papan dakon. sayangnya, dalam batu dakon ini tidak ada keterangan aapun, jadi hanya bisa mereka reka penggunaan batu ini. penyebutan dakon bukan ke arah penggunaannya bermain dakon, tetapi karena cekungan cekungan halus yang ada di permukaan batu ini. susunan lubang yang ada juga relatif berantakan (acak) sehingga tidak mirip dengan papan dakon.



ketiga situs ini memiliki kesamaan, sama sama berada di tengah perkampungan warga. dan jika kalian pernah ke museum sejarah jakarta -better known as museum fatahillah, refers to its location in fatahillah square- pasti pernah melihat replika prasasti kebon kopi dan batu tulis. karena namanya replika, maka bentuk dan model sama, tapi ukuran tidak boleh sama -penjelasan guide museum sejarah jakarta-. prasasti kebon kopi yang ada disini berukuran lebih besar dibandingkan dengan aslinya, sedangkan untuk batu tulis sedikit lebih kecil.

kalau kalian tertarik ke situs ciaruteun, lokasinya agak gampang gampang susah, dari ciampea terus aja lurus mengikuti jalanan. sepanjang ajalan juga ada papan penunjuk arah yang mengingatkan kemana anda pergi. jalannya tapi agak lumayan ternyata. ketika saya pergi ke sana, sepanjang jalan ke cibungbulang masih mulus, tapi ketika mulai masuk kompleks situs, wow! becek berlubang dan bercampur tanah. apalagi gerbang situs dipasang jaug sebelum memasuki ketiga situs itu. masih masuk sekitar 2 kilometer dengan jalan rusak dan menanjak dengan sepeda angin cukup melelahkan rupanya.


tapi jangan salah, udaranya masih segar khas kabupaten bogor. jadi tak ada salahnya kesana kan. toh katanya bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung sejarahnya. :))