Rabu, 08 Oktober 2014

Cara Membuat Benih Cabai Sendiri

Berikut adalah bagian dari seri Farming in Budget yang saya rilis. jika sebelumnya berkisah mengenai kelapa sawit, maka sekarang adalah tentang cabai.

1. Beli benih cabai unggul yang kita suka
Pilih varietas cabai komersial yang akan kita perbanyak. Secara umum, ada beberapa syarat yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi kita dalam memilih varietas. Misalnya sebagai berikut:
- Varietas tersebut cocok ditanam di areal lahan kita, dalam hal ini, kondisi agroklimatnya sesuai dengan kebutuhan tumbuh tanaman cabai.
- Varietas tersebut terbukti berpotensi produksi yang tinggi
- Varietas tersebut relatif tahan dengan gangguan biotik maupun abiotik. Gangguan biotik misalnya, hama dan penyakit, sedangkan gangguan abiotik misalnya, tanah pasir, curah hujan renadah, dll (gangguan abiotik relatif berkaitan dengan syarat pertama).
Benih cabai yang kita beli harus dipastikan merupakan cabai bersari bebas, bukan cabai hibrida. benih cabai hibrida sering ditulis dengan mencantumkan kode F1 di belakang nama varietas cabai yang tercantum di kemasan benih.

2. Tanam benih tersebut
Benih yang kita beli, ditanam dan dipelihara sebagaimana tanaman cabai biasa. Jika betul betul menginginkan hasil yang optimal, perlu dilakukan isolasi jarak dan waktu dengan pertanaman cabai lainnya supaya tidak terjadi perkawinan yang tidak diinginkan. Isolasi jarak adalah dengan menanam cabai kita terpisah dengan tanaman cabai lainnya dalam jarak tertentu, namun hal ini sukar dilakukan, karena meskipun pollen cabai tetangga tidak akan sampai di areal kita, namun serangga penyerbuk, misalnya lebah, tetap bisa membawa pollen cabai tetangga ke tempat kita. Sedangkan isolasi waktu adalah menanam cabai dengan tenggang waktu tertentu dengan areal tanaman cabai di sekitar kita. sehingga ketika cabai kita berbunga, maka tanaman tetangga sudah tidak memiliki bunga lagi, sehingga tidak bisa mencemari tanaman kita.

Pemeliharaan cabai yang dilakukan sebagaimana cabai biasa adalah dari segi penyiraman, pemupukan, pengendalian hama dan penyakit, dll.

3. Pilih kandidat pohon yang akan dijadikan induk
Setelah tanaman cabai kita mulai berbuah, maka akan terlihat tanaman mana saja yang berbuah dengan rimbun, dengan buah yang bergantungan di tiap percabangannya. Kita bisa menyeleksi tanaman tersebut dan kemudian menandainya untuk kita jadikan calon pohon benih. Penyeleksian bisa dilakukan ketika buah masih hijau, dan kemudian diseleksi ulang ketika buahnya sudah mulai berwarna merah.

Penandaan pohon tersebut bisa dilakukan pada ajir tanaman cabai. Pohon yang terpilih, ajirnya kita tandai dengan bahan tertentu, misalnya plastik atau tali khusus dengan warna mencolok. Tujuannya adalah sehingga dari kejauhan kita bisa melihat bahwa tanaman yang ada pada ajir tersebut merupakan tanaman terpilih yang sudah kita seleksi.

Sambil menunggu panen, pohon pohon tersebut harus kita perhatikan dan jika perlu kita beri perlakuan ekstra, misalnya penyemprotan pestisida ditingkatkan, atau kita beri ekstra dopping pupuk agar buahnya semakin besar dan tidak mudah rontok.

4. Ambil buah masak, semakin awal buah semakin baik
Ketika buah berwarna merah, maka pemanenan buah untuk benih sudah bisa dilakukan. Buah yang akan kita jadikan untuk benih ada baiknya baru dipetik ketika sudah berwarna merah semuanya, namun jika keadaan memaksa, jika 75 % polong cabai sudah berwarna merah, maka sudah bisa dipetik untuk diekstraksi benihnya.

Buah yang akan digunakan untuk harus dipisah dalam kantong tersendiri supaya tidak tertukar atau tercampur dengan buah yang akan kita jual.

Pemanenan benih yang baik dilakukan pada buah buah awal yang ada di percabangan bagian bawah. Tujuannya adalah sebagai berikut:
-Buah yang ada di bagian bawah pohon, biasanya berukuran lebih besar dan panjang (untuk cabai besar dan cabai keriting, tetapi tidak berlaku pada cabai rawit). Buah yang besar menghasilkan benih dalam jumlah yang lebih banyak.
-Buah yang berasal dari percabangan bagian atas, biasanya sudah beresiko terkontaminasi oleh pollen dari pohon (atau yang lebih berbahaya, varietas) lains ehingga kemurniannya sudah tidak terjaga. Untuk hal kedua ini, mungkin tidak ebrlaku jika kita hanya menanam satu varietas cabai dalam satu hamparan, dan tanpa kontaminan dari areal sekitar kita.

5. Proses benih dari buah dan simpan hingga akan digunakan
Buah cabaiyang akan digunakan sebagai benih, sebaiknya segera diproses untuk diambil benihnya. Jika tidak bisa segera dikerjakan, maka buah cabai sebaiknya disimpan terlebih dahulu di kulkas agar tidak mudah rusak -atau terserang cendawan-.

Pemrosesan buah untuk benih terdiri dari beberapa cara. Namun yang menurut saya paling mudah, adalah cara yang diajarkan di lab saya dulu.
- Buah yang masih baik dan memenuhi syarat dibelah membujur, sehingag didapatkan dua potongan memanjang dengan ukuran yang hampir serupa
- Potongan buah dipegang dengan tangan kanan dengan menggunakan pinset, sementara tangan kiri menggunakan pinset lainnya, mengambil benih benih yang ada di potongan buah cabai.
- Ada baiknya tidak sama sekali menyentuh biji atau bahkan potongan buah karena bisa memberikan sensai hangat atau bahkan panas yang sukar hilang.
- Disarankan juga menggunakan sarung tangan karet jika terbiasa dan tidak menghalangi kegiatan operasional.

NOTES:
- Hindari buah yang terserang antraknosa
Antraknosa / pathek merupakan penyakit yang menyerang tanaman, paling jelas pada buah cabai. Penyakit ini menular melalui benih, sehingga buah yang terserang, bisa jadi bijinya sudah mengandung spora antraknosa yang bisa menularkan pada generasi berikutnya.
- Jangan gunakan pohon yang sudah menunjukkan gejala layu, virus, atau penyakit lainnya.
Pohon yang menunjukkan gejala serangan penyakit, menunjukkan bahwa pohon tersebut tidak tahan penyakit. Oleh karena itu, lebih baik tidak ditanam. Penyakit seperti virus, bahkan sistemik dan sudah pasti menular melalui benih.

Selasa, 07 Oktober 2014

Membuat Kecambah Kelapa Sawit Sendiri (part II)


Well, ini adalah lanjutan saya dari posting sebelumnya. Kalau pada posting saya sebelumnya fokus membahas bagaimana memilih pokok yang baik sebagai sumber benih, maka kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana memproses tandan kelapa sawit menjadi kecambah, for sure aka literally.

1. Pemilihan Tandan Dura
Alasan mengapa tandan dura, sudah saya jelaskan pada postingan saya sebelumnya. Untuk memproses benih, kita butuh bahan baku. dalam hal ini, tandan Dura. Ambil satu tandan dura dari pokok dura yang sudah kita tandai sebelumnya. Satu tandan dura bisa menghasilkan kecambah dalam jumlah yang cukup besar. Satu tandan dura dewasa bisa mengandung 2000 - 2500 berondolan, jika penyerbukannya baik, demikian juga pemeliharaannya sehari hari. Buah kelapa sawit bisa dikatakan masak (bukan matang) pada umur 150 hari setelah polinasi. Namun karena kita masih bermain main, kita bisa menggunakan tandan yang berondolannya sudah mulai berwarna merah (tandan panen seperti biasa, supaya memudahkan untuk mengambil tandan).

2. Perontokan Berondolan
Tandan yang sudah kita terima kemudian diperam supaya buahnya mudah memberondol. Cara memeramnya bisa dengan beberapa cara, tapi cara yang menurut saya paling mudah dan efisien adalah dengan mencincang tandan menjadi masing masing spikelet (tangkai tangkai buah, red.), untuk kemudian dimasukkan ke dalam karung, atau ditutup dengan plastik, kain tebal, atau terpal sehingga suhunya terus hangat, atau cenderung panas. Setelah dua atau tiga malam, berondolan akan mudah dilepaskan. Berondolan yang sudah dipipil itu kemudian sudah bisa kita fermentasi.

3. Fermentasi Berondolan
Fermentasi berondolan bisa menggunakan dua methode, yaitu fermentasi basah dan fermentasi kering. Fermentasi basah adalah merendam berondolan secara keseluruhan dalam air selama 7-10 minggu, dengan catatan air rendaman diganti setiap hari. Sedangkan fermentasi kering adalah memeram berondolan dalam karung (supaya mudah dan praktis) selama 7 hari, tanpa air. Pada fermentasi basah, akan muncul bau busuk dan minyak yang berwarna kekuningan, sedangkan pada fermentasi kering, akan muncul kapang diantara berondolan.

4. Pengolahan Berondolan
Setelah selesai difermentasi, maka kegiatan berikutnya adalah membuang mesokarp (sabut kelapa sawit). Pembuangan sabut ini bisa dilaksanakan dengan cara manual yaitu dengan cara ditumbuk. Anda bisa menggunakan lumpang dan alu untuk menumbuknya, namun jika tidak ada, bisa menggunakan tank bekas pestisida. Tank ini sudah dicuci bersih dengan sabun sebelumnya sehingga sisa pestisidanya dipastikan sudah hilang. Tank ini kemudian dibuang sepertiga bagian atasnya dan voila, alat tumbuk sudah siap digunakan. Kalau ingin praktis bisa menggunakan ember sebagai alas tumbuk, namun pengalaman saya, mudah pecah apalagi untuk dura yang bijinya tebal tebal.

Biji yang sudah ditumbuk kemudian dicuci dengan air mengalir hingga sisa mesokarpnya hilang. Penumbukan tidak bisa dilakukan dengan sekali tumbuk karena masih ada sisa daging buah yang masih menempel, terlebih jika dilakukan fermentasi basah. Pada beberapa kali, penumbukan harus dilakukan hingga tiga kali agar sisa daging buah betul betul hilang. Jika daging buah masih menempel, maka saat pemrosesan berikutnya akan mudah tumbuh cendawan pada bagian luar biji.

5. Pematahan Dormansi Biji
Setelah biji betul betul bersih, maka bisa dikeringkan selama beberapa saat agar biji benar benar kering. Jika suhu panas (antara 30-33 oC), maka pengeringan biji bisa dilakukan selama 1 hari saja, namun jika cuaca sedang tidak terik, maka pengeringan bisa dilakukan lebih lama. Salah satu indikator biji sudah kering adalah warnanya sudah berubah menjadi lebih muda. Biji yang masih basah biasanya berwarna gelap (coklat-kehitaman), sedangkan biji yang sudah kering warnanya antara abu-abu kecoklatan.

Biji yang sudah kering bisa disimpan dalam kantong plastik atau ember untuk disimpan dalam tempat gelap yang panas (misalnya loteng rumah, atau ruangan dengan atap seng). Untuk membuat biji kelapa sawit mau berkecambah, teorinya, diperlukan pemanasan dengan suhu 39-40 oC selama 50, 60, atau bahkan 90 hari, tergantung produsen kecambah.

Pengalaman Saya, saya pernah memiliki biji kelapa sawit yang sudah bersih, kering, dan disimpan dalam ruangan yang bersuhu hangat - panas selama beberapa waktu dan tidak diproses, tiba tiba, hampir seluruh biji yang ada di kantong tersebut mengeluarkan tunas. Mungkin suhu ruang yang hangat sudah cukup untuk mematahkan dormansinya.
Keterangan Gambar 2. Biji sawi yang berkecambah selama penyimpanan.

Sesekali, mungkin bisa tiap 2 minggu, jika penyimpanan biji dilakukan dengan kantong plastik, ada baiknya dilakukan aerasi dengan membuka kantong plastik dan menganginanginkannya selama sehari, sambil ditambahkan air dengan sprayer sedikit saja.

8. Re-Soaking Biji
Setelah biji selesai dipanaskan, biji direndam dalam air selama 7 hari, dengan air diganti setiap hari (sama seperti fermentasi berondolan), bedanya, karena disini bijinya sudah dalam kondisi bersih, maka tidak berbau busuk seperti saat perendaman berondolan.

7. Penyimpanan Benih
Hari ke-8, biji diangkat dan dikeringanginkan selama sehari (pagi-sore). Biji tidak perlu terlalu kering, bahkan biarkan saja kulit biji tidak berwarna gelap, asal sudah tidak ada air di permukaan kulit biji. Biji kemudian di masukkan ke dalam kantong platik, atau ember, untuk disimpan dalam ruangan gelap. Biji harus dijaga agar selalu lembab.

8. Pemilihan Kecambah
Mulai hari kesepuluh, biji sudah bisa mulai dipilih mana yang bertunas. Jika biji tersebut sudah mengeluarkan tunas, maka sudah bisa disisihkan untuk ditanam di pembibitan. Pemilihan berikutnya bisa dilakukan pada selang 7 hari. Pemilihan kecambah bisa dilakukan hingga ke 7 atau 10, setelah itu ada baiknya biji yang belum tumbuh dimusnahkan saja karena sudah tidak baik. Pengalaman saya, kecambah lebih banyak tumbuh hingga pemilihan kelima. Setlah itu jumlahnya sudah menurun dengan sangat drastis.



NOTES:
- Metode ini adalah metode yang sudah saya sederhanakan dibandingkan dengan pembuatan kecambah komersial, tanpa mengurangi esensi dan fungsi vital dari masing masing kegiatan.
-Dengan metode ini, daya berkecambah mungkin tidak bisa mencapai 80-90 %, tapi setidaknya bisa menghasilkan kecambah dengan jumlah yang terkontrol dengan ukuran yang seragam.

Sabtu, 21 Juni 2014

Membuat Kecambah Kelapa Sawit Sendiri (part I)

Keterangan Gambar 1. Ilustrasi kecambah sawit yang bisa kita produksi sendiri.


Keterangan Gambar 2. Perbandingan antara kecambah dari biji Dura (belakang) dan biji Tenera (depan)
Before I start to explain shits, I'm highly warning you that these methods are profitable unrecomended. Terms and conditions applied. :)
Kita tidak bisa menyangkat bahwa kelapa sawit merupakan komoditas sektor agrikultur dengan profit yang paling besar, mau skala apepun, kecil atau besar. Tanaman apa yang cukup sekali tanam bisa panen pada tahun ke 2.5 dan terus menerus dipanen dalam jumlah besar hingga tahun ke 25, atau bshkan 30?
Dalam budidaya kelapa sawit, banyak faktor yang mempengaruhi kualitas dan kuantitas produksi. Benih, iklim, pupuk, hama penyakit, dan tetek bengek lainnya. Mari kita fokus ke benih kelapa sawit, karena hal ini yang akan saya bahas lebih lanjut.
Saat ini, jumlah produsen benih kelapa sawit di Indonesia ada sekitar 15 institusi, sebagian besar merupakan perusahaan swasta. Harga benih, dalam hal ini kecambah, kelapa sawit juga beragam, dari 6500, hingga 1.2 USD per buah, itu juga kalau belum mengalami peningkatan lagi. Dengan asumsi kebutuhan benih per hektar 200 kecambah, artinya paling tidak butuh 1.3 juta untuk kebutuhan benih per hektar. Tidak besar memang, tapi bagi petani dengan modal terbatas, sebetulnya bisa diakali agar biayanya bisa mendekati 0 rupiah, for sure!
Kelapa sawit dibagi menjadi 3 jenis, dura, tenera, dan pisifera. I'm not gonna explain those shits here, kalau mau tahu detailnya, silakan mencari di luar. Intinya, dura sebagai ibu, pisifera sebagai bapak, dan jika keduanya dikawinkan akan jadi tenera, yang akan ditanam skala luas di kebun. Idealnya, kita memang menanam tenera untuk kebun, tapi ya apa ada cara mendapatkan tenera dalam jumlah besar, dan gratis? jawabannya, if you're speaking illegally on its simplest way, big no!
salahnya masyarakat kita, sering menanam kentosan, yaitu anakan kelapa sawit yang ada di sekitar pohon dewasa yang tumbuh dari sisa biji yang jatuh, sebagai bibit. And that's the greates mistake! kelapa sawit yang banyak ditanam di perkebunan adalah tenera. Dan jika anda menggunakan anakan dari tenera tersebut, maka hasilnya bukan 100 % tenera lagi, tapi menjadi 25 % dura, 50 % tenera, dan 25 % pisifera. 25 % pisifera ini yang akan menjadi masalah. Karena karakter pisifera adalah sebagai berikut, tandan betina kebanyakan akan abortus, alias rontok sebelum matang, artinya, tidak ada tandan yang bisa dipanen dan dijual. Anda mau menanam seperempat pohon yang sudah pasti tidak bisa menghasilkan? kalau saya sih ogah. Dan parahnya, sistem menanam kentosan sebagai bibitan ini sudah banyak menyebar dan dipraktekkan oleh pekebun masyarakat, bahkan sudah ada istilahnya, yaitu benih mariles (marihat lelesan). *Marihat adalah nama lama dari PPKS
Jadi, bagaimana cara mendapatkan benih gratis dengan kualitas yang tidak jelek jelek amat? Coba datang dan cari informasi dari perkebunan di sekitar anda. Apakah ada kontaminasi dura di kebunnya? kalau tidak, tanyai pemanen yang bekerja disana, tandan dura itu biasanya besar dan berat, dibandingkan dengan tandan tenera pada umur yang sama. Jika ada, maka segeralah kesana, kunjungi blok dengan kontaminasi dura dengan membawa parang untuk membelah brondolannya. Cek tiap brondolan, lalu tandai pokok yang ketika buahnya dibelah, terlihat ada cangkang yang tebaa. Ya, itu dura. Pokok yang akan menjadi sumber benih kita.
Pertanyaannya, kenapa dura? apa bagusnya dura jika dibandingkan dengan tenera jika dijadikan induk ilegal? Singkatnya begini. Kalau anda menggunakan benih dari tenera, dan asumsinya disekitarnya adalah tenera semua, maka rasio anaknya akan menjadi 1/4 dura, 2/4 tenera, dan 1/4 pisifera yang tidak bida dipanen buahnya. Jika anda menggunakan benih dari dura dan disekitarnya adalah tenera semua, maka rasio seluruh anaknya akan menjadi 1/2 dura dan 1/2 tenera. Namun jika anda menggunakan benih dari dura, dan disekitarnya adalah dura semua, maka benihnya akan menjadi 100 % dura, pokok dengan tandan berat dan besar. Itu yang petani mau bukan? resikonya, pabrik bisa menolak dura, karena minyaknya sedikit. Antisipasinya, jangan menjual buah dura dari kebun anda langsung ke pabrik, tapi lebih baik lewat pengepul. Dan yang perlu diingat, ada kelemahan lain dari dura, jumlah tandan per tahun tidak sebanyak tenera.
Jadi, mau menggunakan bibit yang mana? Paling baik beli kecambah komersil dari produsen benih. Tapi jika harus memungut dari blok, pastikan benih yang anda ambil berasal dari pokok dura.

Post ini berisi tentang pemilihan induk sebagai sumber biji yang akan kita jadikan kecambah. untuk pembuatan kecambah, literally, silakan baca post berikut: http://tangangatel.blogspot.com/2014/10/membuat-kecambah-kelapa-sawit-sendiri.html

Genetics for dummies

Pernah mendapat ilmu genetika di bangku sekolah? hukum mendel adalah ilmu paling fundamental sebagai dasar ilmu genetika. Pentingnya genetika, adalah bisa menjadi Sistem Periodic Unit dalam ilmu biologi. Tanpa genetika, biologi hanyalah kumpulan hafalan mati yang tidak terkoneksi. *Kalau boleh menyadur narasumber bbc discovery program*

Coba lihat kalian dan saudara kalian, ada yang mirip bapak, ada yang mirip ibu, ada yang mirip keduanya, ada juga yang malah gak mirip sama sekali dengan keduanya (nah lho?). Kenapa bisa begitu hayoh? Ada peran genetika dalam penentuan tersebut, akan mirip siapakah kita. Kalau mirip bapak, berarti pengaruh bapak lebih kuat (dominan bapak), kalau mirip ibu, berarti pengaruh ibu lebih kuat (dominan ibu). kalau perpaduan keduanya, misalnya hidung, mata, mirip ibu, rambut, warna kulit mirip bapak, maka pengaruh bapak dan ibu sama kuat (intermediate). 

Let see kita punya bunga berwarna merah dan berwarna putih, dan kita kawinkan. Maka warna keturunannya akan ada tiga kemungkinan, yaitu merah, putih, atau merah jambu. Kalau anaknya merah, berarti induk merah dominan, induk putih resesif. Kalau anaknyanwarnanya putih, berarti induk putih dominan, induk merah resesif. Dan kalau anaknya pink, berarti kedua induk intermediate, artinya pengaruh gen kedua induk sama kuat. Kasus sederhananya seperti itu.

Uniknya, selalu ada nisbah yang hampir selalu tepat berdasarkan teori tersebut. Kalau salah satu induk dominan, maka penampakan anak akan selalu memiliki rasio 3:1. 3/4 Bagian mirip induk dominan, dan 1/4 bagian akan mirip dengan indum resesif. Kalau kedua induk intermediate, maka rasio anaknya akan 1:2:1, dengan 1 mirip induk 1, 2 bagian merupakan perpaduan kedua induk, dan 1 bagian lagi mirip dengan induk 2. Sekali lagi, ini kasus sederhananya.

Rasio ini, hanya jika kita bereksperimen dengan satu sifat beda, misalnya warna saja, atau bentuk saja, atau tekstur saja, dst. Jika kita memadukan warna dengan bentuk, misalnya, maka rasionya akan berubah, bukan 3:1 untuk kasus dominansi, tetapi berubah menjadi 9:3:3:1, misalnya. Pembahasannya akan saya tulis di lain waktu.

Rabu, 18 Juni 2014

Momma's old tips to get rid your scaries off

All of us ever have our childhood for sure. Jaman kecil memang jaman lucu lucunya. Jaman kita masih polos setengah naif dan bandel setengah penakut. Namanya juga anak kecil, pasti ada rasa takut, for too many things! Takut gelap, takut lewat kuburan, takut anjing, takut sama bapak yang galaknya minta anpun, dan banyak hal remeh temeh lainnya. Bukan berarti sekarang begitu kita dewasa trus serta merta kita bisa gak takut dan melawan secara fisik (mencoba menafsirkan melawan ketakutan secara sempit, hahaha), tapi banyak hal yang kita takutkan ketika dewasa memiliki penjelasan rasional di dalamnya.
Deket rumah gue yang dulu (rumah pertama keluarga gue), ada sebuah pemakaman keluarga yang sudah tidak digunakan lagi. Struktur gapuranya menunjukkan pemiliknya adalah pengagum arsitektur hindu bali. Posisinya agak ke dalam, bamun bisa terlihat dari jalan melalui celah antara dua rumah tetangga gue. Dan konyolnya gue, hingga gue SD, selalu scared as fuck setiap melintasi jalan itu setiap malam, padahal banyak rumah tetangga. Bahkan gue selalu mensugesti diri gue untuk tidak menoleh ke arah gang yang bisa terlihat lokasi kuburan itu.
Sebagai anak terakhir, gue sering dijadikan pesuruh ke warung, yang beli obat nyamuk lah, yang beli kerupuk lah, gula, atau minyak tanah (jaman gue sd elpiji masih belum disubsidi, cuma punya orang tajir). Gue selalu ogah ogahan setiap disuruh emak ke warung kalau sudah malam. Dan selidik punya selidik, ketahuan kalau gue takut lewat kuburan, padahal kuburan itu berjarak 30 m dari pinggir jalan di perkampungan padat penduduk. Kalaupun setannya keluar, udah ditimpuki duluan sama tetangga gue yang rumahnya sebelahan.
Akhirnya emak gue mengajarkan jurus sakti menangkal takut. Kalau gue merasa takut, whatever the trigger it is, gue diminta untuk memegang titit gue. Kalau memang jumlahnya masih lengkap, satu batang dan dua butir, maka gue gak perlu takut. Nothing to be scared if you're still manly enough, at least physically.
Beberapa waktu ini entah kenapa gue teringat tips itu, sehingga gue selalu memegang titit gue ketika merasa uneasy. Hanya saja ada satu perbedaannya, titit gue terasa much bigger compared those time. Hahaha

Sabtu, 04 Januari 2014

Resolusi 2014

Membuat resolusi hampir bisa dikatakan sebagai rutinitas yang rutin dilaksanakan setiap pergantian tahun. Isinya tidak buruk kok, bahkan bisa dikatakan pasti baik semua. Isinya bermacam macam, ada yang menyoroti sisi gaya hidup, ekonomi, bahkan masalah spiritual. Sayangnya, banyak dari kita yang menganggap resolusi itu lebih seperti seremonial saja. Lewat dari akhir januari, banyak dari kita yang bahkan sudah lupa akan resolusi yang sudah disusunnya untuk sisa 11 bulan ke depan. Lah?

kalau kita cerdas, untuk menjadi lebih baik tidak harus selalu berpatokan pada resolusi resolusi tersebut, yang kadang malah di tengah jalan kehilangan semangat dari penyusunnya sendiri. Hidup bermasyarakat bisa jadi lebih dari cukup untuk belajar lebih baik, kalau kita mau peka dan membuka diri.

Gue pernah bertemu dengan penjual krupuk keliling, tunanetra, sosok yang cuma gue lihat di televisi. Kadang memang kita harus mensyukuri apa yang ada pada diri kita dengan terlebih dahulu melihat sesorang yang kekurangan. Tidak etis sebetulnya, tapi memang itulah yang paling sering terjadi. Malah lucunya, beberapa orang, boro boro menjadikannya sebagai suatu refleksi, malah pura pura gak nvelihat, atau malah menjadikannya bahan olokan, seperti acara lawak jaman sekarang yang makin ngaco?

berubah jadi lebih baik itu tidak perlu nunggu tahun baru, kapanpun bisa, asal kita mau membuka pikiran dan hati. Ngomong ngomong, gimana deagan resolusi 2014 nya? ada yang sudah tercapai? :D

Senin, 09 September 2013

#WeekendWithoutMall

Sebenernya istilah ini bukan gue yang bikin, nyomot dari percakapan traveler yang ketemu di fersival jalan jaksa 2 minggu kemarin. Apa itu weekend without mall, konsepnya adalah bagaimana kita menghabiskan akhir pekan, yang selama ini identik dengan mall, menjadi kegiatan outdoor, yang bukan emol banget. misalnya? bisa ke pelabuhan sunda kelapa, taman bakau muara angke, pasar tradisional, atau ke museum yang jumlahnya tidak sedikit di Jakarta ini.

Tujuannya bagus, agar kita tidak selalu tergantung dan manja kepada mall setiap butuh pelarian untuk killing time. Dengan program ini, kadang kita malah bisa berhemat karena nyaris tidak ada barang barang dengan harga selangit, otherwise, yang ada malah substitusinya yang bisa jauh lebih murah. misal, kalau kita ke toko buku di Mall, kita bisa mendapat buku dengan harga nyaris 5 x daripada buku bekas yang bisa kita dapatkan di Senen. Di senen juga, kita bisa dapat menemukan baju bekas dengan harga yang reliable banget, bukan cuma baju sih, lengkapnya baju, celana, bakaian dalam, sampai gorden!

Nih contoh beberapa destinasi wisata untuk melakukan program #WeekendWithoutMall

1. Pasar Senen
2. Blok G Pasar Tanah Abang
3. Pasar Gembrong
4. Pasar Hewan Jatinegara
5. Pasar Burung - Matraman
6. Pasar Baru
7. Pasar Antik - Menteng
8. Pasar Bendungan Hilir
9. Pasar Rawabelong
10. Pasar Induk Kramatjati
11. Blok A dan Blok B, Tanah Abang
12. Proyek Pasar Pagi Asemka
13. Museum Sejarah Nasional (Museum Gajah)
14. Museum Wayang
15. Museum Seni Rupa dan Keramik
16. Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah)
17. Museum Bahari
18. Museum Bank Indonesia
19. Museum Bank Mandiri
20. Museum Tekstil
21. Museum Serangga dan Taman Kupu Kupu + Museum Biota Air -TMII
22. Taman Monas
23. Taman Menteng
24. Taman Fatahillah
25. Taman Suropati
26. Lapangan Banteng
27. Taman Ayodya
28. Taman Situ Lemabng
dan lain lain yang gak mungkin disebutkan disini. :D

Jadi, udah berapa lama tinggal di jakarta? trus udah berapa tempat diatas yang sudah kamu kunjungi? :)

*Special thanks to dreamers radio, wikipedia, dan citydirectory