Rabu, 14 Januari 2015

Cinta, tai kucing rasa coklat -or whatever it means-

Well, temen kantor gue ngambek. Iya, sama gue. Alseannya simple, gue nge-hijack HP nya dengan ngewasap ke gebetan dia. dia ngambek dan uring uringan, sementara gue cuma bengong sambil nge-meh.

Yah gue sendiri sebenernya juga gak bisa dibilang bener sih, iseng buka buka HP dia, sementara dia gak pernah gue ijinin pegang HP gue. Tapi, ya whatever lah, si gebetannya juga bakal tahu kok kalo itu bukan tulisan dia. Soalnya kayaknya cuma gue yang ngasih perhatian ke gebetan dia -gue intens komunikasi dengan gebetan dia, soalnya si gebetan ini satu satunya junior (dari tahun lahirnya) di divisi gue sebelum akhirnya dipindahkan ke kebun.

Ngomong ngomong cinta, sebenranya gue cuma nyengir sendiri ketika ngetik postingan ini. Nyengir antara takut didiemin selama beberapa hari -yah tau lah cewek kalo ngambek kayak apa, moga moga gak sampe berbulan bulan deh-, atau ketawa sendiri nginget kisah gue sendiri, yang kayaknya cocok dibikin cerita roman ringan, tanpa bumbu esek esek dan sejenisnya, karena gue bukan pembuat cerita stensilan. :D

Selama gue hidup selama 24 tahun -terhitung sebelum gue ulang tahun Oktober lalu-, gue belum pernah benar benar pacaran. Cinta monyet jaman SMP pernah sekali, lalu ditolak. Jaman SMA, malah doesn't give a shit about love. Jaman kuliah, suka cewek yang udah punya pacar, akhirnya mereka menikah. Nembak cewek, kena friendzone. Jadi memang bisa dibilang late bloomer, karena sampai lulus kuliah gue memang gak pernah pacaran.

Awal awal kerja, gue juga gak pacaran. Ada yang deketin, guenya yang freaked out. Setelah berumur 24 tahun, ada yang deketin. udah deket tanpa pernah jadian, akhirnya malah terungkap kalau dia itu hooker. Tapi gakpapa kok, dia kesalahan terbaik yang pernah gue buat dalam hidup gue. I love you soooo very very very much, Ndut. :3

Walaupun dari awal gue juga tahu hubungan gak sehat kayak gitu gak bakal bertahan lama, tapi seenggaknya gue pernah suka -dan mendapat respon yang serupa-, walaupun ujung ujungnya kena dumped sih. hahaha

Lewat umur 25 tahun, seenggaknya, meskipun hanya sebentar, gue jadian juga, dengan orang yang berbeda. Anak baik baik, sumpah, tapi sayangnya, gue gak bisa mempertahankan lebih lama. We're stepping in different world. Sometimes I questioning myself about my relationship. We're so deal in everything. mungkin karena yang selalu rukun itu akhirnya malah jadi masalah. Gue yang selalu mulai mencari masalah, akhirnya memutuskan untuk mengakhiri semuanya sebelum gue menyakiti dia lebih jauh. *insert emoticon showing I'm crying here*

Setelah putus, entah kenapa, I feel I have a best feeling ever. Bisa jelalatan liatin siapa aja, eh, maksud gue, bisa bebas dan jujur kepada diri gue sendiri. Love isn't always about other people, love could be about I, me, and myself. :)

Senin, 12 Januari 2015

Playlist Galau

Gue adalah tipe orang yang gak bisa lepas dari stimulus audio. Gue sering nyusun playlist sesuai keperluan, dan mood. Salah satunya playlist yang bisa dikatakan sebagai playlist galau -even I didn't named it as galau-. Isinya macem macem, tapi kebanyakan lagu yang kalau gak cukup membuat galau, seenggaknya bisa ngerusak mood di pagi hari. lol

OneRepublic - Apologize (Dreaming Out Loud)
Lagu galau pertama. Pertama denger dari Radio, gue kesengsem sama gesekan biola yang menyayat hati (versi original revisi pertama, lol). Tambah keluar versi berikutnya, yang OneRepublic ft Timbaland, yang ternyata gak kalah kece dengan keunikannya sendiri.

OneRepublic - All This Time (Waking Up)
Lagu yang jadi soundtrack ketika hubungan gue gak bisa gerak kemana mana lagi, dan akhirnya putus. Awal awalnya, gue cuma Meh-ing aja, cuma semakin didenger, semakin ngenes sendiri, sambil sesekali mesem mesem gak jelas.
 
OneRepublic - I Lived (Native)
Sebenernya lagu yang memberi semangat, tapi karena musik dan vokal Ryan Tedder yang mendayu dayu, jadinya malah macem ngenes sendiri. Direkomendasikan buat yang lagi il desperados, merasa down se down downya, sehingga kalau muter lagu yang bersemangat malah jadinya terlalu jomplang. Yah, bisa dianggap warming up lah dari titik nadir kagalauan *halah, macem bahasa silet aja
Coldplay - The Scientist (A Rush of Blood to the Head)
Hiks, lagu galau paling galau. Buat yang lagi break up dan sebenernya masih sayang sama bebebnya. Pengen mulai ulang, tapi gak tau darimana harus mengulangnya. Kayaknya lagu ini juga jadi Siganuter Song galau-nya Coldplay. Kayaknya semua galauer pernah ngerasa cocok lah sama lagu ini, setidaknya walau hanya sekali.
 
Coldplay - Charlie Brown (Mylo Xyloto)
Merasa mentok dengan kisah cinta, karier, dan kehidupan anda yang begitu begitu saja dan selalu dibatasi? let's blow them up! Mungkin itu yang gue tangkap dari lagu ini. Keluar dari stigma, berusaha mengapresiasi diri sendiri dengan mengekspresikan diri sendiri. Wew, lagu galau yang bsia nge boost mood.
 
Coldplay - Us Against the World (Mylo Xyloto)
Cocok dinyanyiin berdua sama pacar, temen, atau orang terdekat lainnya. Sebenrnya gak harus berdua kok, namanya juga Us. Meskipun ini lagu galau, motivating juga kok. Smooth, sweet, and powering up. Suka sama liriknya yang di beberapa part ngasih semangat buat menakhlukkan dunia *lah lu kata negara api. XD

Coldplay - Up with the Birds (Mylo Xyloto)
Smooth, sweet, and chewy. Entah kenapa suka lagu ini, gak tahu alasan pastinya. Mungkin karena dia digunakan untuk closing film Life 2012? hahaha. Mungkin lagu ini bisa untuk jadi lullaby, soalnya ritmenya yang pelan dan menenangkan.

Coldplay - Death and All His Friends (LeftRightLeftRightLeft)
Bukan versi studio, tapi yang versi life. Versi studio ada tambahan di belakang yang mengurangi kesan galau dan malah motivating, jadi macem mood swinger. After being dropped, you'll be elevated. Nyebelin gak? makanya gue sendiri lebih milih yang versi life, kinda being desperated.

Coldplay - The Hardest Part/Postcards from Far Away (LeftRightLeftRightLeftRight)
Lagi lagi versi life yang lebih baik dari versi studio. Versi life lebih terasa total galaunya. Kalau versi studionya, agak cheeky. Lagu galau tapi masak iya ritmenya kayak gak ada galau galaunya. Mengingatkan sama Princess of China.

Jason Mraz - I Won't Give Up (Love is a Four Letter Word)
Hiks, gak sanggup review lagu ini.

Michael Buble - Home (It's Time)
Lagu jaman kuliah, jamana jamannya homesick dan pengen pulang. hahaha. Sedih bingits pokoknya. lagu ini juga yang jadi andalan Benny Prawoto, penyanyi andalan AGH 44. :D

Michael Buble - Lost (Call Me Irresponsible)
Represent loneliness, without anybody to share with. Mirip lah sama kondisi gue saat ini *throw a bag of attention here*. MV nya sendiri model model gloomy, galau, dan mood dropping juga.

Five for Fighting - Superman (America Town)
We're not perfect. Kayaknya itu representasi paling teapt buat lagu ini. Tapi tahu kan gimana style John ondrasik kalau nyanyi. lagu biasa aja bisa dibikin jadi lagu galau. Apalagi lagu yang dari awal ceritanya bikin galau?

Five for Fighting - World (Two Lights)
Lagu motivating, dengan melodi yang bikin mood turun. hahaha. Sebenernya bagus kok liriknya. Dengan beberapa bunga bunga disana dan disini, tapi ada satu kalimat yang mengingatkan kalau kita bisa merubah dunia, kalau kita mau. :3

Five for Fighting - 100 Years (The Battle for Everything)
Mempertanyakan refleksi kehidupan kita. Bukan model lagu yang membuat sedih dengan cerita dan bahasanya, tapi lebih membuat kita berpikir, mau apa di kehidupan yang kayak gini? apakah sekedar gini gini aja? Apakah sudah cukup puas dengan kehidupan kita yang sekarang? apakah kita punya tujuan dalam hidup, yang mungkin, apakah bisa tercapai?

Glee Cast - Cough Syrup (Season 3)
Suka sama gaya Blaine Anderson pas nyanyiin ini. Muka Darren emang cocok untuk bersedih sedih dengan gaya Flamboyannya. Btw, yang bikin makin galau adalah ksiah David "Dave" Karofsky yang jadi backstory. Jaman jaman dia ditolak sama lingkungan sekitarnya dan memutuskan untuk bunuh diri.

Rabu, 07 Januari 2015

Charlie Brown, Galau, and Eargasm

Sejak gue pertama denger lagu Charlie Brown, entah kenapa gue langsung suka nih lagu. Mungkin karena beatnya yang mantep -jedag jedugnya kerasa-, hati gue sedang galau, atau entah penyebab lainnya yang gue sendiri gak terlalu yakin. Beda dengan lagu lagu Coldplay lainnya, seperti Death and All His Friends, 42, Yellow, Us Against the World, Up With the Birds, yang rata rata hanya mendapat komentar Meh dari gue pada awalnya, tapi akhirnya malah nempel di kuping. Kasus Charlie Brown, dari awal udah suka pake bingit, makin kesini juga tetep suka.

credit: here

Track keempat dari album studio kelima ini memang unik. Dari lirik cerita yang motivating, video klip yang gak biasa, dan efek elektrik suara Chris Martin bikin makin merinding pas galau dan pada akhirnya, eargasm.

credit: here


Btw, Gue sendiri gak bakal bahas kalau pada awalnya lagu ini dikasih judul cartoon heart, bahwa MV nya tentang perlawanan dalam bentuk radikalisme, atau juga isu homoseksual yang diusung oleh Chris Martin Cs. Tapi sesungguhnya isu terakhir ini yang paling gue suka, ditambah dengan lirik 'We'll be glowing in the dark.' Yeah, socially unaccepted, but promising that you'll shine as bright as f*ck, what could be better? Bagian itu paling gue suka, dimana saat gue bener bener down dan butuh spirit, muter Charlie Brown selalu masuk sebagai solusi pertama.

Tapi ya entah, kadang saking semangatnya atau gimana, yang sering terjadi bukan cuma makin semangat, tapi mood makin seperti roller coaster, sampai saat pandangan terasa kabur dan dada terasa sesek wajar terjadi. Apalagi pas bagian Chris Martin teriak 'Light a fire, Fire a spark,' aduh mas, aku pasrah mas. *Lah opo iki? hahaha

Overall, I do love love love love love this song. Kalau One Direction punya lagu Best Song Ever, maka gue klaim Charlie brown sebagai Better Than Your Best. :)

Bonus: Trivia gak penting!
Di MV charlie brown, gue menangkap masing masing member punya headshaking yang berbeda beda, dan gue -karena sudah apal- sering memposisikan diri gue sebagai member dan melakukan headshake sesuai dengan gerakan mereka.
Chris Martin : Tolah toleh kanan kiri.
Guy Berryman: Gerakan gak spesifik kepala, tapi seluruh badan bagian atas (pas kamera dipasang di bass dia).
Will Champion : Head Banging (terutama pas dia gebuk drum)
Jonny Buckland : Kepala gerak ke arah diagonal ke sudut atas kanan, kembali ke posisi kepala tegak dengan posisi normal, lalu ke diagonal sudut kiri atas, kembali normal, dst.

Senin, 05 Januari 2015

Wisata Sehari Pulau Pari

Postingan saya kali ini bukan sesuatu yang baru sekali, tapi pada bulan September yang lalu. Pulau Pari sendiri bukan sesuatu yang baru sekali, seingat saya, teman kuliah saya yang bernama Nazima Maulidya pernah mengajak ke Pulau Pari, duluuu sekali. Tetapi karena keterbatasan budget saat itu, saya menolak.

Semenjak Listrik masuk ke Kepulauan Seribu, ditambah dengan sosmed, maka Kepulauan Seribu menjadi terekspos secara eksponensial. Kalau dulu saya hanya tahu Pulau Bidadari dan Pulau Kayangan karena sering menjadi lokasi shooting Sinetron, maka saya mencoba mengunjungi daerah tersebut, Pulau apapun itu, terserah. :)

13 September 2014, pukul 06.30 saya sudah berada dalam bus transjakarta dari halte Sarinah ke Stasiun Kota. Dari kota menyambung dengan angkutan ke Muara Karang, disambung lagi dengan mikrolet (atau angkot) merah saat itu, ke depan pintu Pasar Muara Angke. Ketika sampai di dalam, saya sangat terkejut ketika mendapati suasana sudah sangat hiruk pikuk di sana. Bisa dikatakan, semua kapal kayu yang ada, sudah sesak dengan penumpang. Saking sesaknya, bahkan saya duduk di luar kapal ketika dalam perjalanan menyeberang ke Pulau Pari. Mengapa Pulau Pari, entah mengapa, saya sendiri lupa alasannya. Yang pasti tidak ada alasan khusus saat itu.

Setelah 3 jam perjalanan, kapal sampai di Pulau Pari. Mencoba mengikuti saran teman di kapal, saya disarankan mencari tiket kapal kerapu untuk pulang hari, Naas, tiket habis. Untung di sore hari saya masih bisa naik kapal predator. :3

Dipulau pari sendiri ada dua spot 'obyek' wisata yang memungkinkan untuk dijelajahi.

1. Pantai Pasir Perawan
 Spot ini memang khusus untuk wisatawan. Tarif masuknya murah, kalau tidak salah tidak sampai Rp. 10.000,00, bisa gratis malah kalau tahu ada jalan tikus untuk menuju lokasi, hehehe. Untuk wisatawan yang akan membuat tenda (ya, di dalam memungkinkan untuk membuat tenda, kalau betul betul backpacker dan tidak mau menginap di homestay), tarifnya beda lagi. Dihitung per tenda (dan juga per wisatawan).

Fasilitas di dalam Pantai:
- Pantai berpasir besar dengan ombak yang sangat tenang (Karena ada buffer bakau di sekeliling pantai) dan hingga ke batas buffer kedalaman airnya sangat dangkal.
- Beberapa tempat makan, kebanyakan menyediakan bakso, mi instan, dan es kelapa muda. Harganya standar saja, tidak terlalu mahal.
- Rental perahu kayu dan pengayuh, untuk keliling ke antara pohon bakau, kalau tidak salah, 35 ribu sekali putar.
- Rental kayak/sampan, untuk berdua, bisa digunakan untuk keliling areal pantai (selama masih dalam buffer bakau)
- Areal untuk mendirikan tenda. Ada di sebelah kanan pintu masuk. Areal yang banyak dipilih camper agaknya memang yang tertutup (jadi agak semi private)






2. Lokasi Pelatihan LIPI
Bukan spot khusus wisata, tetapi lebih ke areal Diklat bagi Karyawan LIPI. Jadi ya jangan heran kalau lokasinya tidak semenarik harapan anda. Tetapi, yang pasti masuknya gratis kok, free of charge. :) Cukup mengisi buku tamu yang disediakan oleh penjaga di pos masuk. Dan namanya areal Penelitian, jangan pirrating. Jangan merusak fasilitas yang ada dan jangan mengambil biota yang ada

  



 Tips and Tricks:
- Ada tiga BTS di pulau Pari, artinya tidak perlu kehilangan akses komunikasi dengan dunia luar.
- Pada hari Sabtu siang, umumnya pengunjung masih tinggal di Cottage sehingga  pantai masih seperti milik sendiri.
- Kunjungan akan lebih mudah dilakukan jika dilakukan dalam rombongan sejumlah 10 orang, karena banyak paket wisata yang bisa mengakomodasi, dari tiket, penginapan, snorkeling, dan konsumsi
- Kalau ingin balik hari seperti saya masih memungkinkan, sore hari ada kapal predator (jet boat) yang pulang sekitar jam 15.00 ke Pantai marina (Ancol). Tarifnya memang mahal, 165.000 per orang, dibandingkan kapal kayu yang hanya 35.000, tetapi waktu tempuhnya juga jauh lebih singkat, tidak sampai satu jam.
- Di areal Pulau Pari tidak perlu takut kelaparan, banyak warung yang menjual berbagai makanan, dari otak otak, gorengan, hingga bakso.
- Dengan timing yang tepat, kunjungan ke Pulau Pari bisa menyenangkan, air jernih (dibandingkan Ancol), arus tenang, dan suasana yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan.
- Sedikit minus dari Pulau Pari adalah spot spot di luar Pantai Pasir Perawan dan Diklat LIPI, mudah dijumpai sampah. Solusinya, jangan kesana. :)

Minggu, 04 Januari 2015

TV series in 2015

Well, TV has ruined my life, digital paid TV does furthermore.

Ada beberapa acara TV yang cukup menarik buat ditonton di tahun 2015 ini, beberapa baru, tapi banyak yang sebetulnya musim lanjutan dari tahun tahun sebelumnya. Dari beberapa tayangan iklan yang terlihat cukup gencar di TV, maka ada beberapa program TV yang sepertinya sayang untuk dilewatkan. Berikut daftarnya, sebagian besar memang dipengaruhi oleh preferensi gue sendiri, lol

1. Glee S6
Yey! Acara TV yang sooooo gay. Beberapa temen gue sampai bingung, kenapa gue nonton beginian. Special thanks for Ardie Ariyono, who has drowned me with this TV series sampai gue mabok, dan akhirnya, ikutan nonton. Thanks God, gue sebenernya gak suka suka amat, Nonton mungkin iya, tapi kalau ngikutin every single pieces of gossips there and download the vodcast, no thanks. I have may business to do. hehehe



Bocorannya sih, ini season terakhir dari Glee. Jujur memang begiru mereka graduate dari WMKHS, ceritanya udah agak absurd. Karakter baru yang ituh, cerita yang udah mirip siklus daur ulang. Wew, weird. Dengan meninggalnya FInn Hudson juga sedikit banyak membuat cerita agak wew. Walaupun Mike Chang dan Quinn Fabray gak ada, tapi animonya gak seheboh Finn Hudson, mengingat Finn adalah salah satu karakter utama. Ingat kan pas jaman season season awal dimana kita dicekokin sama cerita cinta Finn dan Rachel?

Acara Premiere di Star World Sabtu ini, So it's not too late to follow the shits from the very beginning. :)


2. Junior Masterchef US S3
Mengikuti series sebelumnya, gue merasa tertarik untuk mengikuti musim ketiga. Apalagi, pada musim kedua, gue hanya mengikuti dari pertengahan musim, agak weird juga (maklum lah, tipi sama tipi digital berlangganannya baru ada, lol). Perbedaan mendasar antara acara ini dan yang dewasa, mungkin karena tiap episode yang dipulangkan ada dua, yah namanya juga anak kecil, biar tekanan psikologisnya gak segede kalau pulang sendiri (trus bayangin pulang sendiri, dan ketika jalan ke pintu, diteriaki dari atas "ORANG GILA, MAKAN TAI!!!").

source: here

Sebetulnya agak malas juga menonton acara talent search seperti ini. Anak umur 11 tahun dengan teknik memasak seperti itu? oh come on, it's so fake! Kemudian ingat Masterchef Indonesia saat Sarwan hanya memasak nangka dengan megolahnya menjadi kue talam. Apakah dia yang terlalu biasa dengan membuat hidangan seperti itu, atau anak anak di Junior Masterchef US yang terlalu pintar? Don't know the reason yet, but, it's still annoying as hell.

Jurinya sepertinya masih tetap tiga yang kemarin. Gordon Ramsay (the main star), Graham (pemeran pembantu), dan juri satunya (figuran, bahkan gue gak inget siapa namanya). Premiere minggu ini juga di Star World, kapan tepatnya, gue lupa.

3. River Cottage Australia S2
A Real Harvest Moon! Acara yang emmang sungguh menyerupai Harvest Moon versi nyata. Berkebun, beternak, memasak, dan mengikuti festival. I do love it with all cost :3


Masih tayang rutin setiap Selasa malam di AFC. Gak mau describe lengkap ah. mending bikin postingan khusus untuk bahas ini. :3

4. New Girl S4
Sayang memang, Jess, Nick, Schmidt, Cece, Winston, dan Coach hanya bisa menghibur hingga bulan Mei, lalu rehat untuk mulai S5 pada bulan September nanti. Gue pikir memang ini acara Sitkom yang paling oke untuk ditonton, mengingat BigBang theory dan How I Meet Your Mother sudah selesai. Setting karakter yang masih ada di kisaran umur gue, membuat gue ketawa aja, gak pake banget, karena memang ya gue sendiri pernah berada pada posisi itu.


Kenaifan Jess, keculunan Nick, keberadaban Schmidt, kepolosan Winston, kecantikan Cece, dan kedongo'an Coach, oh come on, gue salah bikin deskripsi. Sebetulnya baik Cece, Nick, Winston, maupun Coach berbagi karakter yang hampir sama, polos cenderung naif (atau bodoh? hahaha).

Masih running setiap minggu di Star World, walaupun tertinggal satu minggu dengan di US, masih membuat acara ini masuk ke daftar wajib tonton.

5. Gardening Australia
Upload setiap Sabtu, sebetulnya ini bukan TV series yang bisa kita nikmati di layar TV. tapi gue sendiri lebih banyak menikmati sebagai Vodcast yang bisa didownload secara gratis di web ABC.



Namanya juga gardening, yah intinya semacam video DIY tutorial tentang bagaimana cara berkebun di Australia. Ceritanya bermacam macam, dengan durasi rata rata 29 menit per episodes. Sebetulnya lebih berupa gabungan beberapa short clip yang masing masing mengangkat tema sendiri, dari taman, landscape, sayur, buah, dan beberapa topik terkait lainnya.

link download: here

4. American Idol S14
Kayaknya bakal rame, tapi ya sudahlah, gue juga gak minat.


5. Hell's Kitchen Indonesia
Sayang kalau gak ngangkat acara di tipi lokal, so I'll choose Hell's Kitchen Indonesia. Acara yang gue jamin bakal bikin panca indera sakit, terutama mata sama kuping. Acara yang pasti bakal penuh drama dan memaksakan. Images Gordon Ramsey bakal diplotkan di Juna? Okey gue ikutin gaya Nedra di Hell's kitchen amrik, 'Bring it on, bitch' (bayangin cara ngomong Nedra disini, hahaha).



Gue sendiri berharap ada banyak verbal abusement disini, tapi you know lah, karena adanya KPI maka acaranya akan lebih mirip sinetron atau FTV religi di channel TV lokal. Banyak air mata dan seolah olah dianiaya, dengan baju robek dan rambut awut awutan. Opps, sorry, you could delete those last two conditions.

Rabu, 24 Desember 2014

Lactose Intolerance, dan cara menghadapinya




 sumber: meetdoctor

Another silly thing about me. Gue punya kondisi yang bisa dibilang silly, dimana perut gue selalu mencret setiap mengkonsumsi produk olahan susu, atau nama kerennya Lactose Intolerance. Kurang lebih, definisi yang gue peroleh dari wikipedia, LI adalah kondisi dimana organ pencernaan kita gak bisa mengkonsumsi produk susu karena kekurangan laktosa

Jika dilihat dari definisi tersebut, maka tingkat LI bervariasi, dari ringan, sampai mengerikan. Ringan artinya kita masih bisa mengkonsumsi produk olahan dengan tambahan produk susu, sedangkan berat, artinya sama sekali tidak bisa menerima susu dalam makanannya. Kasus gue sendiri, gue masih bisa mengkonsumsi beberapa produk, seperti coklat rasa susu (c*dburry) dan es krim vanilla (camp*na) tanpa masalah. Sedikit bermasalah ketika mengkonsumsi minuman energi rasa coklat (m*lo), dan bermasalah total ketika mengkonsumsi susu full cream (ind*milk). Ketika makan yoghurt, pencernaan lancar tapi tidak ada insiden kentut kentut, jadi gue gak memasukkannya ke dalam hitungan.

Indikasi LI sendiri yang gue alami ada beberapa, tapi yang paling umum ada dua, tetapi berasal dari satu akibat, produksi gas di perut yang berlebihan. Indikasi pertama, perut biasanya mengeluarkan suara gemuruh (halah) setelah 4-8 jam mengkonsumsi produk alergen. Indikasi kedua, selang 2-3 jam sesudahnya, gue akan banyak memproduksi *maaf* kentut. Wew, sebetulnya bukan sesuatu yang berbahaya juga tapi lebih ke perasaan malu dan tidak nyaman karena tidak leluasa mengeluarkan gas apabila di lingkungan publik, misalnya, area kerja, meskipun gasnya bukan sesuatu yang berbau. 
 
Mengatasi LI sendiri susah susah gampang. Susah karena agak ribet, gampang karena banyak opsi diluar susu sapi yang bisa kita pilih.
1. Layaknya penderita alergi pada umumnya, yang harus kita lakukan adalah menghindari paparan alergen sebaik mungkin. Hindari semua produk berbahan susu sapi yang memicu reaksi alergi.
2. LI terjadi karena tubuh tidak memproduksi cukup laktase untuk mencerna laktosa. Terapi bisa jadi solusi asal dilakukan dengan benar. Konsumsi susu sapi bubuk dengan konsentrasi yang diturunkan, kemudian dinaikkan secara bertahap. Misalnya seperti ini:
- 3 hari awal terapi, konsumsi susu bubuk dengan dosis 1/2 dari anjuran normal di kemasan (kalau di kemasan 3 sdm per gelas, cukup gunakan 1.5 sdm per gelas)
- 3 hari kemudian, naikkan dosisnya, supaya hitungannya mudah, naikkan menjadi 2/3 dosis, atau 2 sdm per gelas
- 3 hari kemudian, gunakan dosis sesuai rekomendasi, 3 sdm per gelas
Selangnya tidak harus selalu 3 hari, karena respon masing masing tubuh berbeda. Hanya sayangnya, metode ini harus rutin dilakukan, karena begitu putus, produksi laktase akan menurun kembali. Dan jika respon tubuh sudah normal, maka harus terus mengkonsumsi susu sapi supaya tidak kembali mencret.
3. Gunakan produk pengganti susu non sapi sebagai sumber protein. Untungnya, sudah ada beberapa produk yang bisa dipilih, yaitu susu kambing, susu sapi tanpa laktosa, dan susu kedelai.
a. Susu kambing, memang tidak mengandung laktosa sehingga direkomendasikan oleh banyak nutrisionis, hanya saja masalahnya, selain susah didapat, baunya lebih kuat daripada susu sapi.
b. Susu sapi tanpa laktosa, solusi simpel, karena sudah banyak produk susu bubuk yang tidak mengandung laktosa, hanya ketika saya browsing kemarin, kebanyakan adalah produk untuk bayi atau balita. Agak susah mencari untuk dewasa. Saya sendiri tidak mencari karena sudah punya alternatif ketiga.
c. Susu kedelai, mau bubuk atau cair, bisa dibilang sama saja. Susu cair, bisa AB* sari kedelai yang bisa dijumpai di toko, atau bisa beli di abang abang yang keliling gang sambil memukuli tutup panci, lol. Untuk produk susu bubuk, dipasar juga banyak, lebih mudah lagi kalau membeli di toko makanan impor. Saya sendiri sekarang menggunakan produk dari RRT, dengan label Indonesia 'Organic Soyabean Powder.'
Mau pilih yang mana, solusi ada di tangan anda. *Halah
Bonus:
Berbagi pengalaman minum susu kedelai, begini trivianya:
1. Kandungan protein hampir sama dengan susu sapi, walaupun tak setinggi produk pembentuk otot ataupun susu ibu hamil.
2. Susu kedelai saya punya kecenderungan tidak larut sepenuhnya dalam air panas. Beberapa bagian masih membentuk gumpalan sendiri dan tidak bisa seluruhnya larut secara homogen.
3. Karakter produk kacang kacangan adalah mengandung asam amino Lysine yang mengandung unsur Sulfur, jadi jangan kaget kalau nanti *maaf* kentutnya lebih beraroma. Lol

Selasa, 23 Desember 2014

Night at the Museum: Secret of the Tomb

Okay, I'd try to be honest. Gue belum nonton night at the museum 1 & 2. Gue hanya berharap film ketiganya ini bisa gue tangkap artinya tanpa harus menonton pre sequelnya terlebih dahulu.

Entah kenapa gue penasaran sama film ini. Titled with museum, might be? sesuatu yang paling gue suka, mungkin setelah tiramisu dan teh melati. Lol. Beberapa kali melihat teasernya di Film film yang gue tonton sebelumnya, terakhir di Exodus bersrti, membuat gue penasaran tentang alur cerita film ini. Yah setidaknya gue berharap old stereotype yang berbunyi teaser selalu lebih bagus daripada film aktualnya gak berlaku disini. Karena teaser juga menambah keinginan gue melihat film ini. Hal lain, adanya Robin Williams juga bisa jadi nilai tambah bagi calon penonton. Someone who passed away always appreciated better than they're alive, aren't they? yah memang gue juga sadar kalau nama robin william cukup besar daripada harus sekedar menjadi figuran atau pemeran pembantu (i didn't mean it literally, of course, kemudian muncul image robin williams di film Mrs. Doubtfire, lol.

Plot ceritanya sendiri kurang lebih seperti ini. Larry mendapatkan laporan bahwa tablet ajaib yang membuat semua isi museum hidup di malam hari, mulai berkarat. Larry yang sedang fokus dengan pentas malam di museum, menunda hingga besok pagi untuk menyelidiki hal tersebut. Di tengah pentas, karat bertambah parah hingga semua acara menjadi chaos. Larry yang bingung, menyelidiki sejarah tablet tersebut dan membawa ke perjuangannya ke london, mencari cara mengatasi karat tablet, yang ternyata, mengancam kehidupan semua koleksi museum.

Cerita film ini tak terlalu berat, meskipun di beberapa bagian kesan swinging the moods cukup sampai ke penonton. Namanya juga film dengan rating remaja, jangan heran kalau ada cerita tentang Larry dan anaknya, Nicky, mengenai kisah Nicky yang sedang mencari jatidiri. Meskipun begitu, title mood swing tetap bakal gue sematkan karena ada beberapa bagian yang membuat marah ketika karakter Lancelot membuat onar. Lalu kita menjadi sedih saat semua koleksi museum kehilangan nyawa dan kembali menjadi benda mati. Tetapi sebenarnya, bagian paling banyak adalah tertawa terbahak ketika berbagai keonaran diciptakan koleksi museum.

Aktingnya sendiri juga menurut gue gak buruk. Walter Mitty, eh, maksud gue Larry, berakting dengan baik. So do Rosevelt. Yang mungkin agak ganggu adalah Larry yang agak banyak bicara, dan banyak berkontemplasi mengenai masalah atau situasi yang dihadapinya. Kaaau dibilang bijak mungkin iya, tapi juga gak salah kalau terkesan menggurui. Yah jarak keduanya hanya masalah perspektif saja sebenarnya.

Dan sekarang mungkin bagian yang paling mengundang dosa, glitch revealing! lol
1. Saat excavation, ada penduduk lokal yang marah karena mengusik makam Firaun. Well, it doesn't sounds wrong, tapi dia sudah ikut sebagai crew penggalian. Selama ini lu kemana aja Pak? yah mari berpikiran positif, anggap saja dia penduduk lokal yang sedang melintas.
2. Tablet sudah membuat semua museum hidup selama ini, tapi begitu daya habis rasanya terlalu cepat. Kemudian, gue pikir recharge nya terlalu cepat. Tidak sampai 1 menit sudah full powered. I think Apple should reveal the truth behind tablet's power storage, so my dumb iPhone could last for years without any charging. Lol
3. Item koleksi National History Museum masih hidup sampai mereka kembali ke New York. Mungkin bisa jadi, kalau mereka selalu dalam perjalanan malam dari London ke New York, but it's still weird.
4. Patung penunggang kuda di depan museum tidak pernah hidup agaknya. Apakah dia ada di luar museum? Oh come on, 5 patung singa di London bisa hidup, tetapi yang ini tidak bisa. They're all under same sky.
 
Weeellllll, I'm higly recomend if you're wanting badly to watch this movie. As the last (rumor has it) sequel of Night at the Museum, this movie sure does entertain me. So I guess I'll give 4,5 from 5 stars (I'm quite generous, am not I?).