Sabtu, 20 Desember 2014

Refleksi pelaksanaan CFD tahun 2014

Another not so important post to be wroten (Oh come on, you never posted grade A article before, lol).

Tahun 2014 segera berakhir dalam hitungan hari. Ada satu kebiasaan gue yang mungkin bisa dibilang baru tahun ini, CFD-an. CFD, stands for Car Free Day, momen mingguan dengan niatan mulia. Ajang olahraga massal dengan nol residu hasil pembakaran hidrokarbon, dari jalan santai, jogging, sprint, marathon, skateboard, bersepeda, or just pick one you really loved.

Ajang CFD rupanya tidak hanya jadi event olahraga, banyak pula aktivitas sosial yang sudah melenceng dari tujuan awal. Dari berjualan, himbauan aktivitas religius, gathering dan show up komunitas tertentu, sekedar mejeng ala cabe cabean kali cideng, atau bahkan orasi non ilmiah yang, absolutelly drives me nuts.

Mulai pertengahan tahun ini, sepertinya juga makin banyak acara yang makin tidak senonoh. Kalau anda terbiasa di Monas, pasti anda merasa semakin hari, semakin banyak acara seremonial yang hanya memicu anda mengerenyitkan alis sambil berkata dalam hati, 'what the f*** with these sh*ts?‘ kebanyakan memang berupa acara non profit atau acara bertujuan positif dari lembaga atau institusi tertentu, tapi yang pasti banyak pencari udara segar hari minggu yang terganggu. Apa yang bisa anda harapkan dari lapangan monas yang sudah penuh oleh di segala sisinya. Mau lari? bisa, tapi do not expect to run as free as impala or blackbuck in serengeti national park. Lol
 
Contoh event yang ada di Monas.Dalam satu hari Minggu, bisa ada dua atau lebih event yang dilaksanakan di lapangan monas. Bisa bayangin gimana pembagian ruangnya? masih berharap bisa berlari dengan chantique?
 
Bukan cuma monas yang merenggut kebebasan pencari keringat. Sekarang ada pergeseran penggunaan jalan di ruas sudirman - thamrin juga. Penyempitan di beberapa titik akibat pembangunan MRT membuat kondisi semakin parah. Jalur cepat yang menyempit menjadi tiga ruas di Sudirman, semakin tidak masuk akal ketika ada event lari atau apapun yang semakin meledak seperti bakteri Erwinia carotovora di hati kubis pada musim penghujan. They are stinky, destroying, and of course annoying. Ruas jalan yang tiga jalur, satu jalur dipaksa steril dari pengguna jalan lain. Satu jalur untuk pesepeda, dan satu jalur untuk pelari biasa, non event, untuk bercampur dengan alay alay yang cuma mejeng. Praise the lord! All i want is to smack the official ass with whatever I'd able to find there.

 Spot penanda event lari. entah event lari keberapa yang gue jumpai kemarin, yang pasti, they're enormous in number.

 Suasana lari yang ideal: lengang. tapi bisa terlihat kan pria dengan vest orange? Dia panitia lari yang bertugas mensterilkan jalur untuk pleari (yang gue juga ragu karena jarang berpapasan dengan pelari tersebut)

Ledakan paling parah mungkin dari segi pengguna CFD. Makin banyak makhluk astral yang turun di CFD dan menyita tempat. Dari ababil yang cuma jalan jalan, pemilik anjing yang membawa anjingnya hanya untuk gaya gayaan, ibu ibu entah dari mana yang ikut event hanya untuk mendapatkan selembar kaos dengan bahan yang berbau menyengat ketika keringatnya kering, dan atau komunitas entah apa yang gak puas hanya dengan berdiri di trotoar, kemudian turun ke jalan dan memakan hampir keseluruhan ruas jalan.
 
Simpatisan pada acara menjelang turunnya Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, bertajuk TerimaKasihSBY. Kalau buat gue, #TerimaKasihSBY sudah merenggut agenda CFD gue karena your packs of spectators.

Yang paling ganggu tentu ababil yang cuma CFD an untuk gaya gayaan. Masalahnya sekarang, jumlah mereka memiliki kelimpahan paling tinggi di alam semesta. Dan mereka ini, biasanya gak punya otak. Yang jalan kaki masuk ke ruas sepeda, vice versa. Njijiki pol wis, nggarai nggondok ae. Layaknya makhluk astral lainnya, mereka punya jam operasi juga. Biasanya, mereka mulai keluar dari sarang di atas jam setengah 8. It means, kalau mau lari lari sehat, bukan lari lari cantik karena kalian bukan syahrini, mulailah lari as soon as you wake up. Dari mulai CFD jam 5 pagi, artinya ada 2.5 jam untuk lari sehat dan bebas. Kalau mau nonstop bisa lah beberapa kali bundaran monas ke bundaran senayan Pulang Pergi, lol.

Too lazy to wake up early? bisa lari di hari sabtu di areal Monas. Pengalaman gue, monas di hari sabtu sepinya mirip dengan Thamrin di hari Idul Fitri, sepi. Lari lari cantik sampai gosong juga gak bakal terganggu sama alay, karena rata rata memang yang lari di hari Sabtu betul betul mencari keringat. Tapi ya harap dimaklumi saja, track batu alam yang tidak rata, dan tidak bisa nyambi nyuci mata. Lol

 Setelah membaca tulisan ini, ada baiknya gue ingatkan, bahwa, I'm not antisocial, I just hate human race.

Jumat, 19 Desember 2014

Blue Bird, iPhone, and Wet Ass

Intro: special thanks for Blogspot app, all of my writing has been lost and I should restart from scratch again.

Tadi malam gue jalan sama pacar ke ambass. Sebenernya gak khusus berdua, tapi gue nyamperin dia lagi jalan sama temennya. Setelah jalan, belanja, dan makan, kita buyar. Gue dan pacar naik taksi, karena kondisi lagi hujan. Sudah sampai deket kosan, ternyata hujan makin deres. Gue lari menghindari hujan, sampai setelah beberapa lama gue sadar, HP ketinggalan di taksi. Damn!

Beberapa kali coba, akhirnya sampai ke suatu kesepakatan, sabtu pagi di pool taksi di halim. Sudah sampai di halim, gue baru sadar ketika sabtu pagi biasanya masih di kasur, disini hecticnya sudah ampun ampunan. Forgive me God for whining on my work everytime, lol.

Sudah menegang HP gue kembali, akhirnya gue pulang naik transjakarta aja *hemat ongkos bok, cuma goceng plus angkot, lah tadi berangkatnya naik taksi abis 75rebu*. Naik dari PGC 1, ada seat yang masih kosong, pas disamping jendela. And demsit, joknya basah. Gue baru sadar setelah seluruh pantat gue basah. Sukses jalan sambil menutupi pantat sampe kosan. Lol

Special thanks buat Pak Ahmad Sobari, driver unit SE 4523. Udah naruh HP gue di lost and found. Uang jasanya sudah saya titipkan ke officer lost and found.

Notes:
Sebenernya tulisan ini cuma tanggung jawab sosial, kalau isinya jelek, ya jangan salahin gue. Tulisan sebelumnya yang indah berbunga bunga ilang gara gara gak ke saved.

Rabu, 17 Desember 2014

Junior Masterchef US Season 2 Finale, a tough drama won by Logan Guleff

Wednesday evening activity, watch Junior MasterChef on Star World. Maybe it will be a routine thing I will miss most. Those TV program, which is actually is Fox's, had been ended last night. The winner have been declared, and I think the last episodes have been turned into quite tough drama.

Sumber: here

The final contestant are Logan Guleff (11) and Samuel Stromberg (12). I think Samuel will be the winner, considering all of those talents he's owning. From the very early episodes, Samuel has succeeded, rocked the competition with his skill. Even Gordon Ramsey admired that Samuel would definitely be a great candidate as a champion. He has a good personality, great leadership, maturity despite of his age, and of course, a great cooking skill, much surpassing the age boundary.

While in the other part of battle, stood Logan. Came to the earth a year later, make Logan has a very great differences with Samuel. Logan is kind of Momma-boy. Caught several times crying for (almost) unable to finish the tests. He's lack of leadership, and somehow, unable to organize himself very well.

From the descriptions above, we'll definitely shout that Samuel will be the winner. But, DING DONG! You are wrong. The winner is Logan instead. Logan is kind of Black Horse, out of everyone expectation, including me. An episode before, in the semifinal, when the judges announced that the final contestant will be Logan and Samuel, I, easily guessed that the winner will be Samuel for sure, with a single flip. But truth has been spoken. I, and maybe most of us, am wrong.

Congratulation Logan! you've been a great inspiration for us. To always believe at ourselves, that every one of us has a great potential to be explored. No matter people look at us, we'll be the real winner. Conquering all of the challenges, struggling all of the hard times, sweeping no matter how much tears flows, and keep raising our heads up every time we're doomed.

Once again: Thanks Logan, you rock!


BONUS:

Here's nice picture of Logan watching American Football with his [s]adorable[/s] father

sumber: here

Selasa, 16 Desember 2014

Review: Exodus - Film Bagus yang Gak Bagus Bagus Amat

Tadi malam gue nonton Exodus, film yang masih hangat di jejeran box office movies. Ada alasan lain penyebab gue penasaran sama film ini. Film lain yang mengangkat kisah dari kitab suci, Noah, dilarang beredar di Indonesia, sehingga gue ingin tahu, kisahnya seperti apa kalu Exodus ini sehingga tidak beredar di Indonesia.



Karena memang diangkat dari Alkitab, mak jangan heran kalau ada perbedaan dengan versi Al Qur'an. So far, gue menemukan beberapa glitch yang membuat gue tergelitik untuk posting tentang ini.

1. Musa tidak dihayutkan oleh ibunya, tetapi dibawa oleh kakaknya ke lingkungan kerajaan
Sejak jaman SD, gue selalu mendapatkan cerita bahwa bayi musa dihanyutkan di Sungai Nil oleh ibunya. Lah di film, musa dibawa oleh kakaknya, Miriam ke perempuan yang kelak menjadi ibu angkatnya di Memphis.

2. Musa tidak memiliki tongkat
Musa tidak pernah mendapatkan tongkat ajaibnya. Dan satu satunya device yang dia gunakan dalam cerita adalah pedang emas dari jaman dia masih menjadi anak raja.

3. Musa tidak membelah laut
Implikasi dari poin sebelumnya, maka semua magic related thingies otomatis hilang dari film. Tidak ada adegan Musa mengubah tongkatnya menjadi ular yang kemudian memakan ular ular penyihir Firaun yang terbuat dari simpul tali. Tidak ada juga adegan yang paling vital, dimana Musa membelah laut merah setelah memukulkan tongkatnya.

4. Musa adalah pemimpin Harun
Dalam versi Islam, Musa bahkan pada masa masa awal belajar menjadi nabi, dia berguru kepada Nabi Harun. Di film, memang dinyatakan bahwa mereka bersaudara, tapi lebih ke Harun adalah bagian dari kelompok Musa.

Khusus untuk tahun 2 dan 3, mungkin supaya film ini sedikit lebih realistis dan humanis, bukan terlihat sebagai magic yang gak masuk akal. Bisa jadi, karena di luar sana semakin banyak kaum agnostik. Bisa jadi karena magic yang berlebihan untuk tahun 2014, mereka semakin agnostik.

Overall, gue mendapatkan gambaran yang lebih manusiawi dari film ini, walaupun gue masih harus mengecek ulang, apa betul seperti itu (dalam versi islam). Worthed to try, tapi perlu persiapan adegan jagal, perang berlumur darah, dan atau siap siap mengantuk karena durasi film yang cukup lama (kurang lebih 135 menit).

 __________________________________________________________________________
Bonus: Christian Bale keren, sayang setelah menjadi nabi, kebanyakan scene justru berisi penampilan dia yang acak adut. Kucel, dekil, rambut awut awutan, ah.. sepertinya dia tidak membawa beberapa Bat Device. (lol, gue lupa ini Film tentang Moses, bukan Bruce Wayne)

Kebun Raya Cibodas

Kebun raya ini memang tak terkenal saudara sepupunya, Kebun Raya Bogor. Secara geografis, kebun raya cibodas memang kurang beruntung, tak jauh dari jalan lintas Bogor-Bandung, tapi yang macetnya tentu saja telah terkenal. secara geografis, memang jarak keduanya tak terlalu jauh, mungkin kurang dari 50 km, namun kondisi agroklimatnya memang beda. kalau KRB ekosistem dataran rendah beriklim basah, maka KRC adalah dataran tinggi dengan iklim basah.


 Gambar 1. Musholla KRC yang ada di tengah danau. Melihatnya saja sudah bikin adem

  Gambar 2. Peta Kebun Raya Cibodas

One thing i love most dari KRC adalah tiket masuknya gratis, err.... Memang sejak April tahun 2012, masuk ke KRC digratiskan alias bebas biaya. Ketika gue kesana akhir bulan Maret 2012 (saat masih bayar), pada weekend saja ramainya sudah naujubilah, apalagi kalau gratis seperti sekarang ya?

Gambar 3. Gunung Pangrango (atau Gede?) yang nyembil dibalik awan.

Hawa hawa di KRC terasa aroma pegunungan sekali. Dingin, seringkali gerimis ringan dan berkabut ketika sudah diatas jam 12, dengan awan dan mendung yang selalu menggantung rendah di kaki gunung. Hawa dinginnya itu sebenarnya yang bikin malas ngapa-ngapain. Pengennya tidur aja sambil meluk kamu. *ngomong sama kompor*.

Namanya kebun raya, ya ukurannya luassssss banget. Dan berhubung saya kesana dengan modal nekat, maka saya gak ke kebun sakura, yang memang lokasinya jauh di belakang, jauh dari pintu masuk utama. Menurut pengamatan saya, tidak ada mobil keliling kebun raya seperti di KRB, itu yang bikin malas kalo gak bawa kendaraan sendiri. -tau deh beneran gak ada apa emang guenya aja yang gak lihat-. LOL
 Gambar 4 dan 5. Spot kolam teratai

Tujuan awal ke KRC adalah liat koleksi anggrek, yang bersebelahan dengan koleksi kaktus. The most sh*tty thing adalah, gue kesana pas weekend dan penjaga green house keduanya gak ada *terkunci*. Katanya sih bisa menghubungi petugas kebersihan yang biasa megang, tapi ternyata dia lagi heboh bantuin acara gathering -apalah itu instansinya- yang bertempat di gedung -juga entah apa namanya- depan greenhouse kaktus dan anggrek.

 Gambar 6. GuestHouse yang bisa Disewa.

Kecewa, padahal jalan kaki gue dari depan ke greenhouse ini yang jaraknya lumayan + trek setan naik turun mendaki gunung lewati lembah + berkelok cetar. ngeloyor aja gue pulang.

Di dekat entri masuk ada kios yang menjual tanaman hias, kantin, dan wisata agro -sok -sokan- petik stroberi. tapi berhubung gue gak minat ya gak mampir *apeu* *padahal gak punya duit*.
 
Gambar 7. Spot Wisata agro petik strawberry sendiri

Trus berhubung sini luas dan adem, banyak yang duduk duduk dilapangan sambil ngegelar bekel dari rumah. Rata-rata memang kalo gue liat kesini tujuannya buat piknik (sama pacaran). Kayaknya emang gue doang yang punya tujuan scientific dikit ingin mengenal keragaman koleksi KRC (halah, sok sokan).

kalo pengen ngegelar bekel dari rumah, disini banyak ibu ibu yang kerja sebagai penyewa terpal alas duduk. Agak malu juga sih mereka pas difoto, gak ada niatan jadi artis kali ya jadi malu dan kurang fotogenic *halah*. ibu ibu ini pakai seragam khusus yang membedakan mereka dari pengunjung umumnya, dan mereka juga berkumpul di lapangan depan, dekat simpang utama pas pertama masuk ke KRC.
Gambar 8. Ilustrasi piknik di tengah lapangan

 Gambar 9. Ibu ibu penyewa terpal untuk alas piknik.

 Bonus:
1. Ini postingan yang sudah terpendam lama di draft, bisa jadi relevansinya sudah menurun di beberapa aspek.
2. Di pintu keluar banyak penjual oleh oleh, dari snack, suvenir, sampai sayuran. Berikut contoh foto yang gue ambil saat itu. Harganya murah kok, saat itu masih Rp. 10.000 tiga bungkus, dan yang pasti sayurannya sangat segar.

3. Untuk piknik, memang di KRC jauh lebih enak daripada KRC, karena udaranya sejuk dan sengatan matahari jadi tidak terlalu terik.
4. <PLEASE READ THIS> Walaupun contoh penjual sayur yang gue pasang di Bonus 2 itu cukup murah dan menggoda, ada yang masih lebih baik lagi jika ingin membeli oleh oleh. Di jalan keluar, di turunan, sebelah kanan jalan ada penjual sayur yang berbeda. Penjualnya adalah ibu ibu (lebih tepatnya disebut nenek nenek) yang menjual sayur indigenous. Saat itu, beliau menjual pucuk daun labu siam, pakis, katuk, dan sejenisnya. Sayuran yang tinggal foraging saja dari sekitar. (Mbrebes mili), kalau memang kesana tolong beli. Dia gak minta minta, tapi lebih baik beli di beliau (dan tanpa menawar).

Review: Coldplay 6th Album, Ghost Stories



Sumur: here

There are several reason why I feel it's so heavy to leave Mylo Xyloto behind and open my heart to start to accept Ghost Stories instead. Here's why:

1. The main theme was so gay
I put a huge respect on Mylo Xyloto for it's brave, shocking, and marvelous theme. ETIAW represents a huge, overwhelming spirits. Charlie Brown shouts about how to conquer our fair (in this case, how to be not afraid for being lesbian, --'), and Major Minus, some random people talked to me that it's reminding us that we're always being watched by illuminati.
Now take a quick peek at Ghost Stories. The main theme is totally different with the title. If ghost stories must be so terrifyingly horror, most of the song is love related.

2. The music is kinda so slow, too soothing
Yeah, love theme is implicating at the genre of the music. The music is kinda sleepy, sweet, and totally soothing.let's say: True Love, Midnight, Ocean, and All Your Friends. Wew..
I found that it's a great flop from Mylo Xyloto which is a headbanging, rocking, making me jump all around, into Ghost Stories, which is kinda of old 80's love song, which is effective as well if being used as a lullaby.

3. Ghost Stories came with inappropriate timing.
This is the greatest reason why i do fucking hate Ghost Stories. Chris Martin just divorced with his partner, why the fucking hell he chose to release a love album. it didn't make any senses! at the same time, I broke up with my partner too. It's kinda irritating. well when on the half world there in Britain Chris Martin broke up, I got the same tragedy. Honestly, I gave him too much expectation, hoped that he'd have made a broke up album, which was classified as supportive act for me. lol

Overall review, I found that Ghost Stories is huge slice of black forest cake. It's sweet, irresistible, but do you realize, it's became too sweet so you start to full of it, and considering to leave it behind?

Minggu, 14 Desember 2014

Curug Cilember vs Curug Nangka, which one do you prefer more?


Well, here's coming another not-so-important stories to posted. temanya kali ini sekitar jalan - jalan. kalau gak terlalu updated, ya it's your loss, karena kunjungan hue ke dua lokasi ini gak bisa dibilang baru. bahkan ke curug cilember aja pas gue masih semester 6, artinya kurang lebih udah 4.5 tahun lalu. Omaigosh, gue udah tua. Fak! lol

Curug cilember dan curug nangka adalah dua destinasi alam yang cukup terkenal di daerah bogor. ada beberapa persamaan dan perbedaan yang cukup mencolok di kedua obyek wisata ini.

A. Persamaan:
1. Baik Curug Nangka mapun Curug Cilember merupakan air terjun (you don't say bitch, lol). Curug Nangla maupun Curug Cilember merupakan air terjun yang berada di kaki gunung, dengan suhu air yang bisa sama sama breezing.
2. Curug Nangka dan Curug Cilember merupakan destinasi wisata yang sama sama ramai dikunjungi, dan kebanyakan adalah anak anak labil yang entah apa tujuannya.

B. Perbedaan:
1. Infrastruktur penunjang
Curug Nangka merupakan destinasi yang terbatas, atau mungkin sangat terbatas dengan segala keterbatasannya. minimnya infrastruktur membuat pengunjung agak ogah ogahan. jauh berbeda dengan saudara kembarnya Curug Cilember
- Stepping Path
Stepping Path di Curug Cilember masih berada dalam kondisi yang bagus, terawat, dan landai. Sedangkan di  Curug Nangka, tak semua berupa jalan beton, ada juga jalan setapak dari tanah yang akdang sangat sempit.
- Object Penunjang
Di Curug Nangka, jangan berharap menemukan kondisi estetika buatan manusia dalam kondisi baik. Kalau di Curug Cilember, begitu masuk kita menemukan taman yang terawat rapi, air mancur, kolam ikan, dan lain sebagainya, di Curug Nangka, well, I'm frankly speaking that you won't find so.
- Fasilitas lain lain
 Di Curug Cilember, fasilitas penunjangnya sangat banyak dan baik. Ada cottage yang bisa disewa, areal perkemahan, hingga musholla, semuanya ada dan dalam kondisi sangat baik. Kalau di Curug Nangka, mungkin anda cukup puas dengan kamar ganti yang dibangun serampangan dengan tarif 2.000 per masuk. Pos pos istirahat juga mungkin kalau anda tidak cukup berani untuk duduk di pos pandang/gardu jaga dari bambu yang sudah agak "kriet kriet", maka puaskanlah diri anda untuk duduk duduk di batu atau pinggir jalan saja. lol
- Extra additional
 Khusus di Curug Cilember, ada fasilitas tambahan bernama Taman Kupu Kupu. Bangunan berupa Dome yang sangat edukatif dan konservatif untuk beberapa species, khususnya Troides helena. Kalau di Curug Nangka, well, hehehe, I guess I'm not going to say anything.
- Kantin, or Food Court?
Mulai lapar... mulai lapar... (whoops, salah, kita gak di endorse sama produsen snack itu). Kalau lapar, pilihannya juga agak berbeda. kalau di Curug Cilember bertebaran food court dengan pilihan makanan yang beraneka ragam, maka di Curug Nangka opsinya terbatas, mungkin popmi, mi instan, atau warung sunda dengan berbagai jenis lalapan. wasn't a great deal I guess, karena opsi makanan sunda nya juga representasi yang sangat baik bagi budaya masyarakat sekitar.

2. Akses ke main object
Well well, infrastruktur penunjang berakibat ke beratnya proses struggle yang harus kita lalui untuk ke object utama (yaitu air terjun). 

Di Curug Cilember, pembangunan yang sudah cukup pesat membuat kondisi fasilitas seperti jalan setapak masih dalam kondisi baik dan sangat terawat. ditambah, karena aksesnya yang lebih landai membuat kita nyaman nyaman saja sepanjang perjalanan. 

Sedangkan di Curug Nangka, selain destinasinya agak jauh, terjalnya medan dan hampir tidak ada sentuhan pembangunan, seringkali kita harus melewati jalan setapak dari tanah. dan atau jika melalui jalan setapak dari beton, kebanyakan sudah hancur dan puingnya sering membuat harus ekstra hati hati supaya tidak terpeleset.

Hal lainnya, kalau di Curug Cilember akses jalan mulus dari kita masuk hingga ke air terjun, di Curug Nangka berbeda dan lebih menantang adrenalin. harus melewati jalan terjal, berat, licin, sempit, atau bahkan kita harus melompat di antara batu batuan sungai

Oiya, kalau berkunjung ke Curug Nangka harus memperhatikan waktu juga. Saat puncak musim penghujan, selain hujan yang bisa turun kapan saja, bisa jadi ada longsoran tanah di kanan dan kiri jalan setapak yang cukup membuat bergidik, atau paling tidak, menambah proses struggle kita menuju air terjun.

3. HargaTiket Masuk
 Dulu, jaman ke Curug Nangka 4.5 tahun yang lalu, harga tiket masuk hanya satu, dan itu nilainya hanya Rp. 2.500, atau malah Rp. 1.500 ya? lupa pastinya. meskipun kini harga tiketnya sudah naik dengan tingkat yang cukup mengagetkan, tapi menurut gue, masih tetep lebih murah dibandingkan Curug Cilember.

4. Jenis Pengunjung
Ini yang paling unik, karena kondisi geografis Curug Cilember yang masih di sekitar cisarua dan berdekatan dengan beberapa destinasi unggulan lain, maka tidak jarang banyak turis mancanegara yang berseliweran. Namun satu yang paling genggeus, banyak arab disini. dengan cadar dan dresscode hitam untuk perempuan, dan baju casual untuk laki lakinya. dengan anak yang menggemaskan namun kadang jitakable.

5. Originalitas
Pada kondisi umum, curug Nangka masih kalah ramai jika dibandingkan dengan Curug Cilember. Hal ini memiliki beberapa implikasi positif, misalnya:
a. Kondisi alam yang masih lestari.
b. Masih cukup private kalau tidak mau berdesak desakan dengan strangers.

A. Curug Cilember





 


B. Curug Nangka


 



Overall, walaupun gue banyak menulis review negatif mengenai curug nangka, gue lebih milih Curug Nangka dibandingkan dengan Curug Cilember. Here's why:
a. Curug Cilember is so overrated, dan gue gak suka sama hal hal berbau seperti itu, seringkali ekspektasi yang terlalu tinggi membuat kita gak puas karena excitement yang berlebihan.
b. Curug Nangka masih asri, sepi dari peradaban yang menggangu niatan kita untuk menikmati alam. satu yang paling gue gak suka adalah pembangunan kamar ganti/toilet yang sifatnya sangat serampangan dan gak teratur

Tips kalau mau ke Curug Nangka:
a. Upayakan sampai di lokasi sebelum jam 8. Saat itu kondisi masih sangat sepi sehingga bener bener terasa air terjun private.
b. Kalau mau sensasi yang lebih chilly, datanglah pada sekitaran musim hujan, dan setelah semalamnya turun hujan, maka kabut yang terlihat di antara kanopi pohon di kejauhan menjadi efek khusus yang mencekam (halah), ditambah dengan suara serangga hutan seperti tongeret dan belalang pohon.
c. Kalau mau effect foto yang lebih dramatis, ada air terjun di bawah yang jarang orang tau, akses memang lebih susah, tapi worth the pain (kalau menurut gue)