Selasa, 23 Desember 2014

Flona 2014 season II

Berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, tahun ini pelaksanaan pameran Flona (Flora Fauna), dilaksanakan dua kali. Even pameran tahunan ini memang selalu berlokasi di lapangan Banteng, Jakarta Pusat. Biasanya, pameran dilaksanakan pertengahan tahun selama dua bulan, dimulai dari pertengahan tanggal 20 an awal.
 Pintu masuk depan hotel borobudur saat malam. Meriah!


Stand sukulen murah meriah
 
Dua tahun sebelumnya (2013 dan 2014), saya absen dari pameran, yang biasanya, bisa saya kunjungi hingga 4 kali per pelaksanaan. Adanya agenda tugas ke lokasi membuat saya harus absen. wee, quite a hard thing to do, but life, I mean work, must go on. Jadi ketika saya mendapat info ada pameran Flona di penghujung tahun, antara kaget tidak percaya, dan kemudian excited ketika selesai konfirmasi, saya memastikan kalau saya akan kesana, dan seperti biasa, mungkin sekali kunjungan tidak akan cukup. lol

Kunjungan pertama adalah saat saya CFD-an, hari minggu.Selesai lari, dengan kaos masih basah oleh keringat (dan juga belum mandi, entahlah baunya seperti apa saat itu), saya kesana. Masih sepi, karena memang saat itu masih sekitar jam 8 pagi. Begitu datang, saya berkeliling, sambil menghampiri beberapa stand yang menurut saya menarik. Perhentian pertama, stand anggrek. Experience is the best teacher, itu mungkin kata mutiara yang terpampang di buku tulis saat saya SD. Tapi bukan sekedar kata mutiara, tapi memang ebnar adanya. Pengalaman tahun tahun sebelumnya, stand anggrek dengan layout rapi dan anggrek bagus dan colorful, harganya lebih mahal daripada yang biasa biasa saja. Aaannnnndddddd, it works.

Namanya di pameran, kadang harga yang berlaku bukan harga pasar. Selain karena adanya biaya sewa stand yang menaikkan harga dasar produk, juga karena sebagian besar yang dijual disini adalah barang hobi, sehingga pedagang bisa mengatur harga diatas harga normal. Maksud saya begini, dalam hukum pasar, pedagang tidak bisa menentukan harga seenaknya, karena ada hukum supply and demand, dimana konsumen akan beralih ke pedagang lain karena kulaitas barang yang hampir semuanya sama. tapi kalau barang hobi, karena masing masing barang memiliki spesifikasi dan kondisi yang berbeda beda dengan yang ditawarkan oleh pedagang lain, maka pedagang yang mempunyai barang itu bisa membuat harga sendiri, tanpa terpengaruhi oleh pasar secara umum, atau tetangga sebelahnya. mungkin ada pengaruhnya, tetapi lebih ke arah range harga tertentu, dan itu bervariasi sekali.

 Bahkan ada yang jual Blueberry dan Blackberry! sayang gak ada yang jual pohon Nexus

Misalnya seperti ini. Saya di rumah memiliki anggrek spesies dengan nama Rhynchostylis gigantea normal, dengan motif normal, marbled red and white. Menurut saya cukup rajin, karena sudah dua tahun ini dia selalu berbunga. Mengetahui ada pattern lain, var rubra (merah) dan alba (putih), amka saya berniat mencari keduanya untuk menemani saudaranya di rumah. Setelah beberapa kali survei ke beberapa pedagang, ada yang meminta harga 250 ribu, ada yang 200 ribu, dan guess what, I got two for 250k! Cheap, aren't they? Tipsnya, sebelum membeli, berkelilinglah terlebih dahulu untuk mengecek harga produk sejenis di pasar.

Kunjungan pertama, saya membeli beberapa item, setidaknya yang saya ingat, yaitu Dendrobium antennatum, Dendrobium sutiknoi (?), Phalaenopsis celebensis, Cattleya sp (hibrida), Phalaenopsis amboinensis, dan Vanda tricolor. Well, setidaknya 400 ribu lolos hari itu.

Kunjungan berdua, menemani si bastard Mastika Wardhani. Wew, temen struggle jaman kuliah yang kadang hanya bisa membuat mengelap keringat. lol Kunjungan ini gue membeli Dendrobium aphyllum, Dendrobium macrophyllum, Rhynchostylis gigantea alba, Rhynchostylis gigantea rubra, Dendrobium kuhlii, dan Dendrobium mutabile. Khusus untuk dendobium kuhlii, agak gambling karena habitat aslinya adalah di dataran tinggi.Setidaknya, 400 ribu lolos lagi dari belanja ini (Ampuni oca aim...)

 Si kampret Mastika Wardhani dan Bulbophyllum beccarii

Kunjungan ketiga, lagi lagi setelah CFD-an. Tidak beli yang mahal mahal, hanya beberapa sukulen murah meriah untuk project terraium. Hingga didapat 8 pot sukulen murah, dengan 7 pot berharga 5 ribuan, dan 1 pot Haworthia aka ekor cecak dengan harga 10 ribu. Masih murah lah daripada anggrek kemarin. Sayangnya, sampai tulisan ini dipost, toples kaca yang akan digunakan belum dapat, dan bahkan saya baru sadar karena telah membeli terlalu banyak. Pada kunjungan ketiga, saya sempatkan juga untuk mampir di stand jawa timur, membeli rawon dan keripik gadung. Oh God it's heaven! seenggaknya bisa makan rawon asli dan ngobati kerinduan akan kampung halaman. *Meh, kalau mudik malah tidak pernah makan rawon, LOL

Hampir semuanya gocengan, kecuali barisan depan nomor dua dari kiri.

Makan rawon sambil mbrebes mili *halah
 
Berikut beberapa review gue tentang pelaksanaan Flona 2014 season II:

1. Jumlah stand tidak sebanyak Flona reguler. Terutama untuk stand fauna, seingat saya yang pasti ada adalah 1 buah stand petshop dan 1 stand kolam ikan knock-down. Tidak ada stand reptil dan petshop lain yang biasanya melimpah dan selalu ramai dikunjungi anak anak.

2. Jumlah pengunjung tidak terlalu banyak dibandingkan Flona reguler. Ada beberapa alasan yang mungkin menjadi biang keroknya. antara ketidaktahuan masyarakat akan flona yang diluar jadwal reguler, dan atau banyaknya hujan yang turun (khusus yang kedua, beberapa penjaga stand mengucapkan langsung ke saya)

3. Item dagangan, dan juga stand juga hampir tidak berubah dari tahun ke tahun. Anggrek, tanaman hias, tanaman buah, ada juga bonsai, dll. Satu stand yang tidak pernah berubah dari tahun ke tahun adalah Stand Kombucha atau jamur teh. dan lokasinya juga selalu berada di spot yang sama. Ini juga yang menjadi jokes untuk Ardie Ariyono

Stand kombucha langganan Ardie Ariyono

4. Ada yang mengeluhkan mengenai keamanan lokasi, apalagi setelah tanggal 21 November, beberapa stand sudah mulai pulang dan ada insiden kehilangan batik tulis dengan nilai kerugian mungkin lebih dari 15juta rupiah.

5. Penambahan stand regional (Stand Jawa Timur, Banten, Yogya, dll) tentu menjadi kemajuan yang cukup baik. Lumayan bisa makan rawon asli dan membeli beberapa cemilan khas jawa timur seperti keripik gadung, keripik nangka, dll



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar